DAMAI TANPA KEADILAN

DAMAI TANPA KEADILAN

Oleh: Dr. Muhsin Labib

Sikap adalah cermin pandangan. Ia adalah mindset yang ditentukan oleh dasar epistemologi. Melihat sebuah kemelut politik sebagai penjajahan atau menganggapnya sebagai sengketa dua pihak adalah dua produk berlainan dari sebuah epistemologi.

Melawan penjajahan berarti menolak eksistensi penjajah sebagai pihak yang layak diajak berunding. Berunding berarti menganggap pihak lain sebagai lawan dalam sengketa, bukan penjajahan.

Arus besar opini yang terbentuk oleh sentra media Barat melukiskan semua kemelut di manapun, terutama di Dunia Islam, terutama lagi terkait isu Palestina sebagai konflik atau sengketa dua pihak tanpa menyertakan akar sejarah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Penyikapan secara tegas dan semua upaya resistensi dilukiskan sebagai anti perdamaian, ekstremisme, terorisme dan anti Semit. Akibatnya, banyak orang yang sudah merasa bersikap tegas terhadap Israel hanya karena menyerukan perdamaian.

Perdamaian telah disulap menjadi kata yang hanya memuat makna anti resistensi yang bermuara kepada pengambilan kembali hak yang terampas. Perdamaian telah diasingkan dari makna sejatinya dan diubah meniadi kata yang semakna dengan kesediaan berunding dan berbagi hak yang dirampas dengan pihak perampas.

Setelah dijajah, warganya diusir, ditahan dan dibantai, kata damai dilontarkan dan seruan berunding disebarkan. Saat itulah, Israel menjadi pihak penyeru perdamaian dan rakyat Palestina secara resmi ditetapkan sebagai anti perdamaian.

Yaman pun demikian. Setelah dihancurkan dan setengah tanahnya dirampok dan setengah sisanya dijadikan ladang pembantaian, rezim sekutu Israel yang menjajahnya menyerukan perundingan. Inilah penjajahan berbalut perdamaian. Inilah damai tanpa keadilan.[*]

Comments