Langsung ke konten utama

Diego Maradona: Palestina di Hatiku

Legenda sepak bola dunia Diego Armando Maradona Franco tutup usia. Masyarakat di berbagai negara berkabung hingga tagar 'RIPMaradona' menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di media sosial, setidaknya hingga artikel ini diterbitkan.

"Palestina di hatiku dan saya adalah Palestina," tulis akun Twitter @abdoodlavish, 26 November 2020, mengenang pernyataan pria yang pernah membawa Argentina meraih juara di Piala Dunia 1986.    

Maradona mengungkapkan kalimat tersebut ketika bertemu Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Mahmoud Abbas di Moskow. Saat itu, Rusia sedang menggelar Piala Dunia 2018. Ia kemudian mengunggah foto pertemuannya dengan Abbas di laman Instagramnya pada 14 Juli 2018.

Menurut Times of Israel,  jauh sebelum itu, Maradona telah menyuarakan dukungannya kepada Palestina. Pada 2012, contohnya, ia menyatakan, "Saya adalah orang nomor satu pendukung warga Palestina. Saya menghormati dan bersimpati kepada mereka."

Dia kembali bersuara ketika Tel Aviv menyerang Gaza pada 2014. Aksi Israel bernama 'Operation Protective Edge' itu berlangsung tujuh pekan sejak 8 Juli dan menelan dua ribu nyawa warga Palestina termasuk lima ratus anak-anak. 

"Apa yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina itu memalukan," ujar si pencetak gol dengan 'tangan Tuhan' ke gawang Inggris ini.

Maradona mengangkat trofi Piala Dunia 1986 setelah menyingkirkan Jerman Barat di Final
Maradona mengangkat trofi Piala Dunia di Meksiko, 1986, setelah menyingkirkan Jerman Barat 3-2 di partai final

Solidaritasnya menjadikan warga Palestina mencintainya.  Dengan postur tubuh kecil, berlatar belakang keluarga miskin, berkulit cokelat,  tapi berhasil menorehkan deretan prestasi mentereng kelas dunia, Maradona menjadi tokoh inspirasi masyarakat Palestina.

"Bagi kami ini bukan soal sepak bola atau olahraga, ini soal harapan: segala sesuatu itu mungkin terjadi," kata jurnalis berkebangsaan Palestina Ramzy Baroud, seperti dikutip Palestinechronicle.com, 26 November 2020. 

Beberapa tahun terakhir, pria kelahiran Buenos Aires 30 Oktober 1960 ini berjuang melawan berbagai krisis kesehatan yang menimpanya. Pada awal bulan ini, ia menjalani operasi akibat gumpalan darah di permukaan otaknya.

Tadi malam, Rabu 25 November 2020 di rumahnya, jantung Maradona berhenti berdetak. Salah satu pemain terbaik abad 20 versi organisasi sepak bola dunia FIFA ini akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Hasta siempre, Diego.