VIDEO - Anak-anak dalam Koalisi Perang Saudi-UEA di Yaman



Tahukah Anda bahwa perang koalisi Arab Saudi terhadap Yaman yang berlangsung hingga kini melibatkan anak-anak?

Riyadh merekrut anak-anak dari daerah miskin di Sudan dan perbatasan Yaman-Saudi sebagai tentara.  Lebih dari 2700 kasus anak-anak dijadikan prajurit bayaran dalam perang atas Yaman. Menurut lembaga pendidikan dan kebudayaan dunia UNESCO, angka itu hanyalah fenomena gunung es. Jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak dari yang tampak. 

Koalisi yang dibentuk Saudi dan UEA ini merekrut anak laki-laki dari sekolah, daerah urban miskin, pusat-pusat tahanan. Koalisi memprovokasi mereka untuk terlibat dalam perang dengan cara suap, doktrinasi dan paksaan. 

Ahmad Naqib ialah satu di antara anak-anak yang direkrut dari sebuah desa dekat Taiz, Yaman. Ahmad meninggalkan rumahnya ketika berusia 15 tahun setelah dijanjikan gaji rutin untuk sebuah kerja sipil. 

"Kami pergi setelah kami diberitahu akan diberikan perkerjaan di sebuah dapur dengan gaji 3 ribu riyal atau sekitar 11 juta rupiah. Setelah kami diyakinkan, kami pun diberangkatkan dengan bus," kata Ahmad.

Selain itu, lebih dari 40 persen prajurit asal Sudan di Yaman merupakan anak-anak. Mereka juga dibayar untuk berperang membela Saudi.  

Bagi tentara berusia 14 tahun dibayar 450 dolar atau sekitar 6 juta rupiah untuk sebulan dan tambahan gaji 185 dolar sampai 285 dolar untuk bulan selanjutnya selama perang.  

Gaji mereka disalurkan melalui lembaga keuangan Faisal Islamic Bank of Sudan. Salah satu pemilik bank swasta yang berkantor di Ibu Kota Sudan ini adalah Saudi.  

"Menurut saya, (Saudi) benar-benar mengambil keuntungan dari warga miskin, baik keluarga Yaman di perbatasan maupun di Sudan," kata Direktur Center for Counter Hegemonic Studies, Tim Anderson. 

Mereka, kata Anderson, menipu anak-anak untuk dikirim ke garis terdepan palagan sebagai prajurit nonprofesional dalam perang yang mengerikan. Ini mencerminkan budaya Saudi yang tidak menghargai anak-anak. 

"Mereka sama sekali tidak perduli kalau anak-anak itu hidup atau mati," ujarnya.

Pada Rabu lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan soal malapetaka serius akibat perang yang berlangsung sejak 2015 di Yaman. Krisis pangan, kelaparan, malnutrisi akan melanda jutaan warga Yaman termasuk wanita dan anak-anak.[]

  Sumber: Press TV

Comments

Popular posts from this blog

Ustaz Khalid Basalamah Diharap Update Info Soal Yaman

Jejak Qasem Soleimani di Bumi Palestina

Cara Abang Sam Menyuap Negara Arab dalam Normalisasi Israel