RESENSI - Paradoks Martir Quds Qasem Soleimani

Bisa dimaklumi jika Qasem Soleimani hanya berdiam di kantornya memikirkan strategi perang. Dari balik mejanya, ia toh dapat mengerahkan pasukannya ke palagan dan menunggu laporan datang untuk dievaluasi . Bukankah ia seorang komandan pasukan dengan bintang dua, pangkat tertinggi dalam militer Iran? Bukankah ia telah menghabiskan usia mudanya sebagai prajurit di medan tempur?

Tapi faktanya, itu bukan kebiasaan Soleimani. Ia bertindak bukan seperti umumnya para jenderal dan komandan militer.  

Perwira tinggi yang satu ini justru rajin terjun ke medan perang, mengunjungi para pejuang di garis terdepan, mendengarkan pendapat mereka dan mendiskusikan masalah di lapangan. Ia tidak hanya mendengarkan opini orang yang datang padanya tapi menyambangi prajuritnya dan menyimak pendapatnya.  

Menurut Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hasan Nasrallah, kebiasaan inilah yang membantunya memiliki informasi lebih akurat dan pemikiran yang luas lagi mendalam terkait tanggung jawabnya sebagai komandan Pasukan Alquds. 

"Sejak tahun 1998, 20 tahun lebih yang silam, ketika kami bertemu Haji Qasem dan mulai menjalin hubungan, dia lah orang yang selalu menemui saya dan saya hanya beberapa kali saja menemuinya (di Tehran)," kata Nasrallah dalam program Face to Face Press TV, 29 Desember 2020, atau lima hari menuju satu tahun haul Qasem Soleimani.

Pada tahun 1998, pemimpin tertinggi militer Iran Sayid Ali Khamenei menunjuk Soleimani sebagai Komandan Pasukan Alquds. Seperti namanya, salah satu misi unit elit IRGC dalam operasi ekstrateritori ini ialah membebaskan tanah Alquds Yerusalem, Palestina, dari pendudukan Israel. 

Ali Khamenei menyebut Pasukan Alquds sebagai organisasi kemanusiaan yang berjuang tanpa mengenal batas geografis. Mereka hadir di mana pun dibutuhkan. 

Kelompok perlawanan di Palestina seperti Hamas, Hizbullah di Lebanon, termasuk Pemerintah Suriah dan Irak mengakui kontribusi Pasukan Alquds di kawasan. Hamas bahkan menyebut Soleimani sebagai martir Quds lantaran dedikasinya dalam membela Palestina.

Dengan demikian, Soleimani dapat dengan mudah memanggil para pemimpin kelompok perlawanan dan militer ke kantornya di Tehran. Tapi kata Nasrallah, Soleimani bukan tipe komandan seperti itu. 

Soleimani selalu mengatakan, "Anda tak perlu datang ke sini. Saya yang akan mengunjungi Anda. Saya berkhidmat pada Anda." 

Paradoks Soleimani tak sampai di situ. Dalam buku Jenderal Qasem Soleimani: Jalan Cinta Penumpas ISIS, Komandan Alquds ini digambarkan sebagai sufi berpakaian seragam militer. 

Dari berbagai data yang dihimpun buku ini, Soleimani  kerap bersikap dan bertutur kata bak arif besar. Ucapan, ceramah, syair, kisah dan kenangan yang pernah disampaikan Soleimani penuh aroma spritualitas. 

Tentu ini aneh. Bagaimana mungkin seorang komandan perang yang setiap saat memikirkan cara mengalahkan dan membunuh musuh memiliki cita rasa mistik? Cita rasa yang umumnya digambarkan begitu damai, sunyi, indah, jauh dari kebisingan dunia, tanpa nafsu dan amarah.

Nah, buku  ini menjawab paradoks itu dalam satu bab khusus. Yang jelas, kata Nasrallah dalam sebuah wawancara di televisi, Soleimani merupakan didikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Imam Khomaini. Pemimpin sekaligus ulama akhlak yang menekankan pentingnya perang melawan diri (jihadunnafs)  

Meski bab ini tampak serius, pembaca mungkin sewaktu-waktu akan tersenyum sendiri ketika menyelaminya. Khususnya ketika sampai pada kisah-kisah dari medan perang yang pernah disampaikan Soleimani. 

Suatu hari, misalnya, Soleimani memanggil kepala satuan pemantau dan pemetaan Husain Yusufullahi. Kemudian datanglah Husain dengan mengenakan kaos oblong, menggantungkan seragamnya di bahu dan tak bersepatu. 

Soleimani heran dan Husain memahami komandannya tak senang dengan penampilannya. Tanpa ditanya, Husain menjelaskan, "Saya salat dengan penampilan ini saat datang perintah pada saya untuk menghadap Anda. Ketika saya hendak memakai seragam, saya membatin, 'Husain, kau menghadap Allah dengan penampilan ini, apakah kau ingin tampil lebih baik di hadapan orang itu?"

Bagi pembaca yang baru mengenal Soleimani mungkin berharap buku ini menyediakan bab atau bagian khusus tentang IRGC dan Pasukan Alquds. Apa sih IRGC itu? Apa bedanya dengan satuan angkatan bersenjata Iran lainnya? Bagaimana sejarahnya? Apa saja tugas pokoknya dan apa benar mereka teroris seperti dituding oleh Amerika Serikat? 

Ini untuk mengetahui lingkungan Soleimani tumbuh sebagai prajurit dan mendapat gambaran tentang seberapa luas tanggung jawab Soleimani memimpin Pasukan Alquds. Penulisnya tentu punya alasan tersendiri tak menulisnya. Atau mungkin telah mempersiapkan dalam buku serial Qasem Soleimani berikutnya seperti dua di antara para penulisnya pernah menulis buku Apa dan Siapa Hizbullah dan Nasrallah (Misbah, 2006) dan Hizbullah: Sebuah Gerakan Perlawanan ataukah Kelompok Teroris? (Noura, 2013) 

Sementara pada dua bab lainnya, pembaca diajak menelusuri rekam jejak Soleimani sejak terlahir di desa pegunungan Kerman hingga terbunuh di Baghdad. Termasuk sepak terjang Soleimani merajut poros perlawanan di kawasan yang semakin menguat dan mendekati basis pertahanan terdepan Israel. Garis poros itu membentang dari Irak hingga ke Dataran Tinggi Golan Suriah yang hanya selemparan batu ke Israel.  

Di Lebanon,  kelompok perlawanan berhasil mengusir Israel dari pendudukan wilayah selatan negaranya. Pencapaian ini sekaligus merontokkan mitos keperkasaan militer Tel Aviv yang pernah mengalahkan gabungan tentara Arab dalam tempo kurang dari seminggu pada perang tahun 1967.  

Di Palestina, sejak 2006, Hamas berhasil memegang kendali Gaza, wilayah yang berada di front selatan Israel. Khusus di wilayah yang diblokade Israel ini, Hamas mengingatkan, martir Quds punya warisan monumental di sana. 

Berbeda dengan bab Paradoks Soleimani yang analitis,  bab-bab ini disampaikan dengan gaya bercerita deskriptif.  Pembaca seakan ditempatkan berada hanya tiga meter dari Soleimani. Khususnya ketika pesawat tanpa awak Amerika Serikat berhasil mengambil gambar Soleimani di bandara Baghdad menjelang dini hari 3 Januari 2020. Kisahnya tentu berbasis pada berbagai sumber yang - mengutip cendekiawan Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi - data-datanya sangat kuat.[] 


***

Judul        : Jenderal Qasem Soleimani: Jalan Cinta Sang Penumpas ISIS
Penulis     : Irman Abdurahman, Alfian Hamzah dan Musa Kazhim
Penerbit   : Imania
Tahun       : 2020
Tebal        : 249 halaman


Comments

Popular posts from this blog

Jejak Qasem Soleimani di Bumi Palestina

Diego Maradona: Palestina di Hatiku

Anak-Anak Palestina