Langsung ke konten utama

Dalih Israel Cegah Vaksin Covid-19 Masuk Gaza


Israel menahan vaksin asal Rusia yang dikirim untuk tenaga kesehatan, pejuang terdepan penanganan Covid-19 di Gaza. Tel Aviv mengaku khawatir vaksin justru jatuh ke tangan petinggi Hamas. Dalih itu dilontarkan ketika pandemi telah merenggut seribu lebih nyawa warga Palestina.


Sebuah truk kontainer berisikan dua ribu dosis vaksin Covid-19, Sputnik V, tertahan di Kota Beitunia,  3 kilometer dari barat Ramallah, Tepi Barat, Palestina, Senin, 15 Februari 2021. Israel yang mencegahnya dengan berbagai alasan. 

Kepada The Times of Israel, 16 Februari, seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan, Otoritas Palestina mengirim truk kontainer berisi vaksin tanpa pemberitahuan.  "Tanpa koordinasi dengan kami, tanpa meminta izin ke kami," kata pejabat yang tak disebut namanya itu. Ia menyebut tindakan Otoritas Palestina itu "Bodoh".

Otoritas Palestina membenarkan telah mengirimkan vaksin dari Ramallah untuk nakes di Gaza. Tapi Otoritas  menegaskan pihaknya telah menyampaikan pemberitahuan sebelumnya ke Tel Aviv ihwal pengiriman vaksin tersebut. 

Menurut Pejabat Kesehatan Israel, Asher Salmon, pihaknya hanya menerima permintaan izin masuknya vaksin ke Gaza sebanyak seribu dosis. Kemarin, 16 Februari 2020, Dewan Keamanan Nasional Israel, sebuah badan penasihat untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memeriksa permintaan tersebut di Kementerian Pertahanan.

Kantor Perdana Menteri tidak merespons permintaan tanggapan kasus ini dari media. Tapi bagaimanapun, akses masuk ke Gaza harus mendapatkan izin Israel. Hingga berita ini diterbitkan,  surat izin belum diteken.

Di sisi lain, Pemerintahan Netanyahu telah memulai imunisasi massal dan kini telah mencapai  44 persen. Adapun Palestina belum memulainya secara meluas.

Otoritas Palestina di Tepi Barat memulai imunisasi untuk nakes pada awal Februari setelah menerima kriman awal 10 ribu dosis vaksin Sputnik V. Tapi Gaza, wilayah Palestina dengan dua juta lebih penduduk, belum menerima vaksin.

Gaza diblokade oleh Israel sejak 2007 atau setahun setelah Hamas memenangkan pemilihan legislatif. Hingga kini, Hamas di bawah kepemimpinan  Yahya Sinwar yang memerintah di Gaza secara de facto.   
Selama satu dekade lebih masa blokade, Israel setidaknya melancarkan serangan militer tiga kali ke Gaza. Akibatnya, banyak infrastruktur publik termasuk fasilitas kesehatan yang rusak. 

Kini, 169.487 warga Palestina positif terpapar Covid-19. Di antaranya, 1.942 dinyatakan meninggal dunia. 

Khusus di Gaza, 53 ribu warga terinfeksi virus dan 537 orang telah kehilangan nyawanya. Kementerian Kesehatan mengatakan, total sesungguhnya terkait warga terjangkit Covid-19 kemungkinan lebih banyak lantaran jumlah orang yang dites masih terbilang sedikit. 

Menteri Kesehatan Otoritas Palestina Mai Alkaila menyatakan, Israel bertanggung jawab penuh atas terhambatnya pengiriman vaksin ke Gaza. Hamas juga mengutuk tindakan Israel mencegah masuknya vaksin ke Gaza. 

"Itu kejahatan nyata dan melanggar hak asasi kemanusiaan dan hukum internasional," kata juru bicara Hamas Hazem Qassem. 

Hal senada disampaikan oleh Jihad Islam, kelompok perlawanan lainnya di Palestina. "Tindakan tersebut sebuah kejahatan perang. Israel menyingkap wajahnya yang sebenarnya: buruk dan keji," kata petinggi senior Jihad Islam Yousef Hasayneh.

Sebuah lembaga militer Israel, COGAT, juga mengakui Otoritas Palestina telah meminta pengiriman seribu dosis vaksin ke Gaza. Hanya saja, permintaan itu sedang menunggu "putusan politik".  

Sejumlah legislator Israel telah meminta syarat untuk masuknya vaksin ke Gaza. Mereka meminta mengembalikan empat orang Israel yang disandera Hamas.  

Mereka mengklaim Hamas menahan dua warga Israel, Avera Mengistu dan Hisham Sade serta dua serdadu Israel, Hadar Goldin dan Oron Shaul. Keempat disebut berada dalam tahanan Hamas di Gaza.

"Kami akan memberikan bantuan kemanusiaan, ya, tapi dengan imbalan kemanusaan," kata legislator Israel Michal Colter-Wusch kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Parlemen.

Sedangkan legislator Zvi Hauser mencurigai vaksin bukan ditujukan kepada nakes di Gaza. Tapi sepertinya, kata dia, vaksin bakal digunakan oleh pemimpin Hamas.  "Saya tidak yakin Yahya Sinwar akan memberikan vaksin kepada nakes yang baik di Gaza," kata Hauser dengan nada sinis. []


Sumber: aljazeera.com, timesofisrael.com. | Foto:timesofisrael.com.