Ekspor Senjata ke Saudi Tak Henti, Perang di Yaman Tak Selesai

Lembaga internasional penanggulangan bencana di London, Oxfam, menilai Inggris ikut mengulur perang di Yaman. Ketika pemerintahan baru Amerika Serikat mengumumkan akan menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi, Inggris melakukan sebaliknya.

"Inggris justru mendukung tindakan brutal Saudi dengan menjual senjata dan suplai suku cadang pesawat tempur," kata Kepala Kebijakan dan Advokasi Oxfam, Sam Nadel, seperti dilansir media berbasis di Inggris, The Guardian, 22 Februari 2020. 

Inggris telah mengesahkan ekspor senjata militer ke Riyadh dengan nilai hampir 1,4 miliar pound sterling atau kurang lebih 27 triliun rupiah sejak Juli hingga September tahun lalu. Ekspor tetap berlanjut walau sekutunya kini, Amerika Serikat, berubah akal.

Bagi London, kebijakan Washington berlaku bagi AS. Pemerintahan Boris Johnson juga enggan mengindahkan kritik parlemen dan lembaga kemanusiaan. 

"Jika mengklaim mendukung perdamaian di Yaman, Inggris dapat memulainya dengan langsung menghentikan penjualan seluruh senjata yang dapat digunakan untuk menyerang warga sipil dan memperparah krisis kemanusiaan," kata Nadel. 

Pada 18 Juni 2019, The Guardian melaporkan, London bukan hanya menyuplai senjata untuk agresi Saudi ke Yaman tapi juga menyediakan para ahli untuk menjaga perang tetap berlanjut. 

London mengirim ahli jet tempur, teknisi, hingga pelatih pilot. Perusahaan senjata terbesar di Inggris, BAE Systems, sangat banyak memainkan peran. 

"Jika kami tak ada di sana (Saudi), maka dalam 7 sampai 14 hari tidak akan ada jet di langit (Yaman)," kata seorang pekerja di BAE Systems dalam kanal 4's Dispatches.

Sejak Maret 2015, koalisi militer Saudi menyerang Yaman. Mereka belum dapat menduduki Sanaa lantaran mendapatkan perlawanan dari kelompok Houthi Ansarullah dan angkatan bersenjata Yaman. 

Memasuki pekan ketiga Februari 2021, pasukan koalisi militer Saudi terdesak mundur di Marib, basis wilayahnya yang di Yaman utara. Belakangan, kelompok teroris ISIS dilaporkan terlibat membantu Saudi bertahan di provinsi yang kaya minyak ini.    

Sementara PBB mengingatkan agresi militer telah menyeret negara tetangga Saudi ini masuk ke dalam krisis kemanusiaan terparah di dunia. Banyak anak-anak tak mampu mendapatkan makanan yang cukup, air bersih dan kesempatan bersekolah. 

PBB mencatat 2,381 wanita, 3,790 anak, dan 16,978 warga sipil lainnya terbunuh di Yaman akibat agresi koalisi Saudi. Sementara 2,780 wanita, 4,089 anak, and 26,203 warga sipil terluka.

Setidaknya 4,168,301 orang atau 606,694 keluarga mengungsi karena pesawat tempur Saudi membombardir kota, kampung, rumah, sekolah dan rumah sakit selama lima tahun lebih. Di sisi lain, ekonomi Yaman yang telah rapuh sebelum agresi kini kolaps. Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan di Yaman.[]


 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ustaz Khalid Basalamah Diharap Update Info Soal Yaman

Jejak Qasem Soleimani di Bumi Palestina

Cara Abang Sam Menyuap Negara Arab dalam Normalisasi Israel