Langsung ke konten utama

Pasukan Saudi dan ISIS Keok di Marib, Yaman

Pasukan koalisi militer Arab Saudi terdesak mundur di Marib, basis wilayahnya yang terakhir di Yaman. Belakangan, kelompok teroris ISIS dilaporkan terlibat membantu Saudi bertahan di provinsi yang kaya minyak ini.    


Kelompok perlawanan di Yaman, Houthi Ansarullah, mengatakan operasi pembebasan Marib merupakan perang melawan agresor. Mayoritas warga Marib ikut membantu Houthi dan angkatan bersenjata Yaman dalam operasi yang digelar beberapa pekan terakhir ini. 

"Hanya sedikit warga setempat yang ikut bertempur di bawah komando Saudi," kata pemimpin Houthi, Abdul Malik Badruddin, seperti dilansir media setempat, YPA, 19 Februari 2021.  

Sementara Alkhabaralyemeni.net melaporkan, 17 Februari 2021, ISIS secara terbuka menyatakan bekerjasama dengan pasukan Saudi mempertahankan Marib. Tapi keberadaan ISIS di Yaman telah sejak lama.

Pada Oktober silam, misalnya, ISIS dan Alqaeda dilaporkan bekerjasama dengan pasukan loyalis Abdu Rabuh Mansur Hadi, Presiden Yaman versi Saudi. Kemudian Kementerian Luar Negeri dalam pemerintahan transisi Yaman mengirimkan surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menguraikan operasi pembebasan Bayda - provinsi di tenggara Ibu Kota Yaman -  dari genggaman ISIS.     

Surat tersebut menyebutkan adanya warga asing, sebagian besar orang Saudi, yang tewas dalam operasi pembebasan. Sebagian mereka merupakan kombatan dan komandan ISIS. 

Ketika pasukan Saudi dan ISIS mulai terdesak di Marib, Amerika Serikat angkat bicara. Pada Selasa, 16 Februari 2021, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price meminta Houthi menghentikan serangan balasan terhadap Saudi. Menurut Houthi, sikap Washington itu kembali memperkuat dukungan Paman Sam untuk koalisi Saudi dan ISIS. 

Agresi militer koalisi Saudi yang didukung AS telah berlangsung sejak Maret 2015. Dikutip dari Kantor Berita Yaman, Saba.ye, 7 Februari 2021,  setidaknya 2.381 wanita, 3.790 anak, dan 16.978 warga sipil lainnya telah kehilangan nyawa. 

Banyak anak-anak tak mampu mendapatkan makanan yang cukup, air bersih dan kesempatan bersekolah. Jumlah pengungsi mencapai 4.168.301 orang atau 606.694 keluarga. Ekonomi Yaman yang telah rapuh sebelum agresi ikut memperparah keadaan. 


Saudi menyerang Yaman untuk mengembalikan Abdu Rabuh Mansur Hadi ke Istana Presiden di Sana'a. Ia menjabat Presiden Yaman sejak 2012. Tapi pada 2015, ia memilih kabur ke Riyadh, enggan bertahan di samping rakyat Yaman ketika krisis politik bergejolak.