Langsung ke konten utama

Jangan Lupa Kawan: Gaza Masih Terblokade



Jalur Gaza Palestina masih menderita akibat blokade yang dibuat Israel sejak 2007. Isolasi ini seolah melengkapi nestapa warga Gaza yang hampir saban hari menerima perlakuan keji tentara Tel Aviv. 

Wajar bila wilayah seluas Kota Surabaya di tepi Laut Tengah ini menanggung krisis ekonomi akut. Hancurnya infrastruktur berdampak pada seluruh sendi kehidupan masyarakat Gaza.

Sementara penagguhan pemulihan, khususnya pembangunan ekonomi, dan kandasnya kompensasi untuk pengusaha telah berdampak serius bagi Gaza. Banyak instansi internasional telah memperingatkan imbas mengerikan jika blokade terus berlanjut.   

Israel berkali-kali mengumumkan tentang pelonggaran blokade. Tapi yang terjadi di sejumlah perbatasan justru sebaliknya. Otoritas Benjamin Netanyahu masih mencegah masuknya berbagai macam jenis barang, termasuk bahan bangunan, ke Gaza. Demikian juga ekspor produk industri dan pertanian dari Gaza. 

Selama tahun 2020, situasinya tidak berubah. Kebanyakan lintasan komersial ditutup, sebagian lagi bahkan telah dihilangkan.  

Ini tidak sejalan dengan Perjanjian Ekonomi Paris 1994. Inkonsisten dengan kesepakatan pelintasan yang diteken Israel dan didukung Amerika Serikat-Eropa pada 15 November 2005 ketika Israel menarik penduduknya dari Gaza.

Pakta mengharuskan pelintasan Muntar yang telah ditutup pada tahun 2011 tetap dibuka. Selain itu, pada situsi mendesak, Israel harus mengizinkan ekspor semua produk pertanian dari Gaza pada musimnya.

Sementara saat ini, hanya pelintasan Abu Salem yang beroperasi. Tidak ada perubahan dalam jam buka pelintasan bagi truk yang membawa barang-barang impor.

Meski kehancuran pembangunan Gaza di depan mata, impor bahan bangunan justru paling dibatasi. Mereka hanya mengizinkan impor barang-barang berdasarkan Gaza Reconstruction Mechanism (GRM) dengan jumalah terbatas. 


GRM merupakan kesepakatan sementara yang dibuat PBB dan disetujui oleh Otorias Palestina dan Israel pada September 2014. Mekanismenya didesain dengan bertumpu pada keamanan Israel dan hanya mengizinkan bahan bangunan tertentu: semen, baja dan agregat. 

Pelintasan Abu Salem tidak terkena dampak pandemi Covid-19. Penyebrangan ini tetap terbuka bagi ekspor dan impor dengan 'normal' dalam level blokade.   

Pelintasan beroperasi dalam kapasitas minimum dengan jumlah tahunan truk non-BBM kurang lebih sama sejak tahun 2018. Pada ekspor tahun lalu, jumlah truk berkisar 50 persen dari jumlah sebelum blokade diberlakukan.

Pasar utama eksportir Gaza sekarang ini ialah Tepi Barat. Minimnya fasilitas di pelintasan Karam Abu Salem berdampak buruk bagi barang ekspor. 

Truk mesti bongkar muat berulang kali sehingga berimbas pada merosotnya kualitas barang, khususnya produk pertanian. Belum lagi pengemasan dan spesifikasinya yang membuat eksportir Gaza menanggung lipat dua biaya transportasi 

Setelah 14 tahun blokade mencekik, inilah waktunya lembaga-lembaga internasional mendorong penegakan hukum, menjalankan tugas kemanusiaan dan memastikan kebutuhan dasar warga Gaza terpenuhi. Penduduk Gaza mesti terbebas dari kerangkeng terbesar di bumi ini. Rezim Israel harus ditekan secara nyata dan serius agar blokade yang tak adil ini segara diakhiri.[]    


Diadaptasi dari karya Maher Al-Tabba/sumber: middleeastmonitor.com