Langsung ke konten utama

Omar, Warga Makkah yang Tewas Membela Yaman




Warga Kota Sanaa, Yaman, tumpah ke jalan memberikan penghormatan terakhir terhadap jenazah Abdulaziz Yusuf Said Mohamed Omar, 27 Maret 2021. Pemuda asal Makkah, Arab Saudi, ini tewas di palagan, 22 Maret 2021, ketika membela kedaulatan Yaman dari agresor.

Menurut kantor berita setempat, Yemen Press Agency, Omar sebelumnya merupakan tentara Saudi. Ia ikut menyerang negara termiskin di jazirah Arab, Yaman,  dalam invasi koalisi militer yang dipimpin Saudi.  

Pada sebuah pertempuran, Omar ditangkap oleh pasukan Yaman. Pria yang akrab disapa Abu Al-Ezz ini dijadikan tawanan perang. 

Beberapa waktu kemudian, Pemerintahan transisi Yaman yang dipimpin Houthi Ansarullah membebaskan Omar. Tapi Omar menolak pulang ke Saudi. Ia memilih tinggal di Yaman, bergabung dengan pasukan pemerintahan setempat dan berjuang melawan tiran yang menguasai Tanah Airnya.  

Abu Al-Ezz terlibat dalam operasi pembebasan Marib, salah satu provinsi di Yaman tengah. Ketika bertempur mengusir agresor dari Marib itulah, Omar menemui ajalnya. 

Pejabat Dewan Tinggi Politik Houthi, Mohammad Ali Alhouthi, menyebut Omar sebagai "Martir dari Makkah".  Abu Al-Ezz diyakini orang Saudi pertama yang membelot tanpa memiliki asal-usul  Yaman.

  

Prosesi pemakamannya digelar dengan protokol resmi kenegaraan di Ibu Kota Yaman. Jenazahnya disalatkan di Masjid Sha'ab dan dimakamkan di area tersebut.   

***

Tepat pada bulan ini, Maret 2021, masa agresi koalisi militer Saudi di Yaman genap enam tahun. Walau belum dapat menduduki Sanaa, Riyadh bersama 10 negara dalam koalisinya telah menyeret Yaman jatuh ke dalam krisis kemanusiaan terparah di dunia saat ini.  

Lembaga kemanusiaan Humanity Eye Center for Rights and Development melaporkan, seperti dilansir Yemen Press Agency 23 Maretkorban jiwa akibat invasi setengah dekade ini mencapai 43.593 ribu jiwa. 

Korban tewas berjumlah 17.079 yang di antaranya 3.821 anak dan 2.394 wanita. Sementara korban luka-luka 26.496 jiwa.

Infrastruktur publik pun ikut hancur: 15 bandar udara; 16 pelabuhan; 1.102 sekolah dan instansi pendidikan; 390 rumah sakit dan fasilitas kesehatan; dan lain sebagainya. 

Kementerian Kesehatan Yaman mengumumkan 1,8 juta wanita menderita malnutrisi dan mengindikasikan 2,6 juta anak usia di bawah lima tahun mengalami kekurangan gizi akut. Warga kesulitan mendapatkan bantuan pangan dan obat-obatan lantaran blokade yang diberlakukan Riyadh. []