Ustaz Khalid Basalamah Diharap Update Info Soal Yaman


Serangan koalisi militer Arab Saudi ke Yaman genap enam tahun pada bulan ini, Maret 2021. Menurut PBB, setidaknya 16 ribu nyawa warga sipil melayang dan 50 ribu orang menderita kelaparan akibat agresi setengah dekade ini. 

Mundurnya Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden dari barisan pendukung agresi tidak membuat Riyadh berubah akal. Belum lama ini, tepatnya 5 Maret 2021, pesawat tempur Saudi melesatkan misilnya ke area penduduk Aljumla, distrik Salah, Provinsi Taiz. Media setempat Saba.ye melaporkan, dua anak terbunuh dan sepuluh warga lainnya terluka.

Mubalig Khalid Basalamah mengatakan, serangan militer Saudi berawal dari ulah orang Syiah yang mengganggu orang Sunni di Yaman. Sayangnya, Presiden Yaman yang ia tak sebut namanya itu terlambat mengantisipasi keadaan.  

“Ketika Presiden Yaman sadar, dia baru menyurat ke enam negara teluk, masuk lah Raja Salman membantu sekarang,” kata mubalig yang akrab disapa Ustaz Khalid ini dalam video Hidayah Indonesia.  


Setelah mengambil alih kekuasaan, orang Syiah semakin brutal terhadap Ahlussunah. Mereka memenjarakan ulama Sunni, membunuh penghafal Alquran, membakar masjid. "Luar biasa deh, pokoknya,” ujar alumni Universitas Madinah, Arab Saudi, ini. 

Khalid mengatakan, fenomena di Yaman sebelum perebutan kekuasaan juga terjadi di Indonesia, negara berpenduduk mayoritas muslim Ahlusunnah. Oleh sebab itu, ia berpendapat Syiah di Tanah Air juga mengancam NKRI.  

“Sekarang di Indonesia, orang Syiah sedang gencar-gencarnya mencari kesalahan Ahlusunnah dan, subhanallah, perilaku mereka di Indonesia persis seperti perilaku mereka di Yaman sebelum terjadi perebutan pemerintahan seperti sekarang ini,” katanya. 

Di sisi lain, Khalid membela Saudi yang juga kerap dianggap sebagai sumber ajaran Wahabi. Padahal, kata dia, Nabi Muhammad lahir, berdakwah dan wafat di sana. Hingga saat ini, Saudi merupakan pusat orang-orang belajar Islam.   

"Sampai sekarang ini makamnya masih dijaga, masjidnya masih ada, ajaran-ajarannya semua masih sempurna. Dari mana semua itu bisa kita pelajari kalau bukan dari tempat lahir dan wafatnya Nabi Saw. Apakah antum pikir di Indonesia bisa lebih hebat agamanya daripada di Saudi -maksud saya Kota Madinah dan Makkah? Kan tidak mungkin," tuturnya.

Sementara analis Timur Tengah Musa Kazhim Alhabsyi menilai Ustaz Khalid menyampaikan disinformasi tentang Yaman. Sejak dulu, kata Musa, mayoritas penduduk Yaman adalah Syiah Zaidi. Tidak seperti Indonesia yang mayoritas Ahlussunnah. 

“Sejak ribuan tahun lalu penduduknya Syiah Zaidi. Coba baca buku dulu sebelum berbicara Yaman,” kata alumnus Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini kepada Kospy.id, 7 Maret 2021. 

Selain itu, pemerintahan di Yaman juga sejak dulu dikuasai oleh pemimpin dari kalangan Zaidi. Ali Abdullah Saleh, Presiden Yaman pertama periode 1990-2012, merupakan orang Zaidi. Dengan demikian, kisah Ustaz Khalid ihwal persekusi ulama Sunni patut dipertanyakan. 

“Pada periode yang mana ulama sunni dipersekusi? Jika benar Pemerintahan Syiah Zaidi membunuh mubalig Sunni, mengapa Ustaz Khalid baru berbicara sekarang, setelah 2014? Jadi mohon meng-update informasinya,” ujar penulis "Edoardo Agnelli" ini. 

Ali Abdullah Saleh dan Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz.

Selama memerintah, Saleh berteman baik dengan Amerika Serikat dan Saudi. Kemudian terjadi kebangkitan dunia Arab alias Musim Semi Arab di akhir 2010. Presiden Syiah Zaidi kekasih Saudi ini akhirnya dilengserkan oleh Houthi Ansarullah, kelompok perlawanan Syiah Zaidi.

“Jadi ini kekuasaan orang Zaidi digulingkan oleh orang Zaidi. Tak ada urusannya dengan isu mazhab,” katanya. 

Oleh karena itu, dia tak sependapat dengan Ustaz Khalid yang melihat perang di Yaman sebagai konflik Sunni-Syiah. Bagi Musa, intervensi militer Saudi di Yaman berlatar kepentingan politik, bukan mewakili Ahlusunnah.  

Lagi pula, kata dia, tidak ada kelompok Ahlusunnah di dunia ini, termasuk Indonesia, yang mau dipakai namanya dalam rangka menyerang fakir miskin di Yaman. Jika Saudi melakukannya, ini penyalahgunaan nama Ahlusunnah.

"Lantas siapa yang memberi Ustaz Khalid mandat untuk menyatakan bahwa perang atas Yaman itu untuk membela Ahlussunnah. Saudi sendiri tidak pernah menyatakan bahwa invasinya ke Yaman adalah untuk menyelamatkan Sunni seperti klaim Ustaz Khalid. Jika Arab Saudi sendiri tidak berani mengklaim seperti itu, maka tentu janganlah kita menjadi seperti adagium Arab:  لا تكن ملكيا اكثر من الملك Yakni: jangan membela raja lebih daripada pembelaan raja itu untuk dirinya sendiri," ujar pria yang juga merupakan koresponden TV berbasis di Beirut, Almayadeen. 

Musa juga menekankan, ceramah Ustaz Khalid yang menyebut Syiah di Indonesia dapat menggulingkan pemerintahan tak punya pijakan data. Tudingan yang ahistoris.  

Ia meminta Ustaz Khalid menengok Timur Tengah satu dasawarsa belakangan. "Bukankah yang terjadi di Suriah dan Irak sejak 10 tahun lalu adalah orang-orang yang membawa bendara khilafah untuk menggulingkan pemerintahan yang sah?" 

Demikian juga di Indonesia. Setiap orang dapat menelusuri kelompok-kelompok yang ingin menggulingkan pemerintah di Tanah Air. "Ini siapa dan alirannya apa?" tanyanya kepada Ustaz Khalid.  

Adapun mengenai kemuliaan Kota Makkah dan Madinah, Musa sependapat dengan Khalid. Tapi, kata dia, kemuliaan dua Kota Suci tersebut tidak melegitimasi perbuatan keji orang-orang yang berada di sana. Seperti kebiadaban Israel tidak dapat dilegitimasi hanya karena di wilayah pendudukannya pernah turun para nabi dan di sana berdiri Masjid Alaqsa, kiblat pertama umat Islam. 

"Toh, Arab Saudi tidak menyebut namanya Kerajaan Islam Rasulullah. Mereka secara jelas menyebut negaranya Al-Mamlakah al-ʿArabīyah as-Saʿūdīyah, Kerajaan Arab Saudi, yang tentunya dalam nama ini mengadung visi dan misi. Saudi adalah nama sebuah suku, jadi jangan dicampuradukkan."[] 


Foto: perempuan warga Yaman. Sumber: un.org



Comments

  1. Bisa di laporkan... berbahaya ceramah yg menyesatkan dpt mengganggu persatuan.. khususnya di Indonesia

    ReplyDelete
  2. Tangkap aja itu si khalid basalamah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jejak Qasem Soleimani di Bumi Palestina

Cara Abang Sam Menyuap Negara Arab dalam Normalisasi Israel