Langsung ke konten utama

Israel Sebaya dengan Ibuku, Tapi Ia Penindas



Bermukim di kamp pengungsi Gaza, Raiqa, 72 tahun, telah melewati segudang pengalaman pahit. Tapi ketika terjangkit Covid-19, ia merasa inilah pengalaman terburuk dalam hidupnya.

"Ibu saya tahu prosesi pemakaman pasien Covid-19 tak dapat dilakukan selayaknya lantaran aturan pembatasan sosial," kata Rami Almaghari, anak tertua Raiqa, seperti ia tulis di electronicintifada.net, 29 Maret 2021. "Itu yang mengkhawatirkan pikiran Ibu."

Saat mendengar ibunya masuk rumah sakit akibat terjangkit Covid-19 pada Februari lalu, Rami merasa sangat cemas. Beberapa pekan sebelumnya, kerabatnya yang berusia 74 tahun meninggal dunia usai terpapar virus corona. 

Setelah itu, ibunya terinfeksi virus dan memiliki penyakit penyerta. Raiqa menderita diabetes. Ia juga memiliki riwayat paru-paru dan jantung yang bermasalah. Tujuh belas tahun lalu, ia pernah menjalani operasi jantung. 

Gelombang besar Covid-19 sejak Februari 2021 turut memicu kecemasan Rami. Pada 24 Maret, lebih dari 20.000 pasien baru Covid-19 dirawat di rumah sakit. Sejak 26 Maret sampai 1 April, menurut badan kesehatan dunia WHO, jumlah pasien di ruang ICU meningkat 62 persen dan 67 persen untuk pengguna ventilator dibanding pekan sebelumnya.   

Padahal sistem layanan kesehatan di Gaza telah rapuh akibat 14 tahun blokade yang diberlakukan Israel. Rumah Sakit Al-Aqsa di sentral Gaza, tempat Raiqa dirawat, bahkan pernah hancur dihantam proyektil tank Israel pada 2015.

Beruntung Raiqa dibolehkan pulang dan menjalani karantina mandiri di kamp pengungsian. Tapi setiap kali anak-anaknya menghubunginya, Raiqa yang justru mendoakan mereka agar senantiasa dalam keadaan sehat.

"Saya tidak kaget. Ibu saya itu sosok yang kuat, peduli dan penyayang," ujar Rami. 

Menurut Rami, ibunya masuk dalam kelompok prioritas menerima vaksin Covid-19 jika merujuk pada usia dan kondisi medisnya. Tapi ia tak tahu kapan bahkan belum dapat memastikan apakah ibunya bakal menerima vaksin. 

Kurang lebih 80 ribu vaksin yang telah masuk ke Gaza per 29 Maret. Jumlah ini tentu terlalu sedikit untuk populasi di Gaza berjumlah 2 juta. 

"Cina menyumbang 100 ribu vaksin tambahan yang diharapkan tersalurkan ke Tepi Barat dan Gaza. Tapi jumlah ini juga belum mencukupi," ujarnya. 

Sementara Israel mendapat pujian lantaran program vaksinasinya berlangsung cepat. Pada 14 Februari saja, Israel berada di peringkat pertama dunia sebagai negara paling banyak secara per kapita memvaksin warganya.   

Tak hanya itu, Tel Aviv dilaporkan surplus jumlah vaksin. Pemerintahan Benjamin Netanyahu bahkan telah berjanji mengirimkan vaksin ke negara-negara sekutunya di saat tanah jajahannya, Palestina, kekurangan vaksin. 

Padahal, kata Rami, Konvensi Jenewa Keempat mewajibkan Israel untuk memenuhi kebutuhan medis warga Palestina yang hidup di bawah pendudukannya. Israel memang memberikan vaksin ke warga Palestina, tapi hanya orang-orang yang bekerja di Israel. Jadi baru empat persen dari lima juta jiwa penduduk Palestina yang menerima vaksin. 

"Ini membuktikan bahwa Israel hanya bersedia melindungi orang-orang Palestina jika melakukan hal itu untuk kepentingan langsung negara itu sendiri," ujarnya. 

Pada 15 Februari, Israel mencegah sebuah truk kontainer berisikan dua ribu dosis vaksin buatan Rusia, Sputnik V, masuk ke Gaza. Menteri Kesehatan Otoritas Palestina Mai Alkaila menyatakan, Israel bertanggung jawab penuh atas terhambatnya pengiriman vaksin ke Gaza. 

Hamas pun mengutuk tindakan Israel mencegah masuknya vaksin ke Gaza. "Itu kejahatan nyata dan melanggar hak asasi kemanusiaan dan hukum internasional," kata juru bicara Hamas Hazem Qassem. 

Pulang dari rumah sakit, Raiqa menjalani karantina mandiri di Maghazi, salah satu kamp pengungsi terkecil di Gaza. Tempat tinggal ini didirikan pada 1949 atau setahun setelah peristiwa Nakba: tahun berdirinya negara Israel yang berakibat pengusiran 700 ribu lebih warga Palestina dari rumah mereka.

"Israel seumuran dengan ibuku," ujar Rami. "Tapi Israel tak pernah ramah pada ibu. Ia penindas."[]