Langsung ke konten utama

Teroris di Suriah Beralih ke Yaman




Ada yang berbeda di perairan Abyan dua pekan terakhir ini. Maklum, wilayah Yaman selatan yang luasnya lebih dari dua kali Provinsi Banten-Indonesia itu bakal kedatangan tamu dari Suriah. 

Pusat Komando Militer Arab Saudi di Provinsi Aden, Yaman, telah mengirimkan instruksi kepada Komandan Alqaeda, Salem Al Shina, di Abyan. Salem diminta untuk menyebarkan laskarnya di lepas pantai Abyan dalam rangka mengamankan sejumlah titik yang dijadikan pintu masuk kelompok teroris dari Suriah dan sejumlah negara lain. Dalam menjalankan operasi ini, Salem bekerja sama dengan partai berbasis Salafi di Yaman, Al-Islah. 

Informasi ini berhasil didapatkan intelijen angkatan bersenjata Yaman. Berdasarkan sumber dinas rahasia inilah, surat kabar Al-Akhbar yang berbasis di Beirut melaporkan barisan Alqaeda Jazirah Arab (AQAP) sedang menanti kedatangan milisi teroris dari Suriah, 4 April 2021.  

Pelabuhan Internasional Aden, yang berjarak 10 KM dari perbatasan Abyan, berada dalam kendali Dewan Transisi Selatan (STC), organasasi sparatis yang dipimpin Mayor Jenderal Aidarus al-Zoubaidi, Gubernur Aden yang kemudian dipecat Presiden Yaman Abdurrabuh Mansur Hadi. Dengan dukungan Uni Emirat Arab, STC yang mengklaim menguasai Yaman selatan ini mendeklarasikan pemerintahannya pada 26 April 2020. 

Sementara di Abyan, tetangga Aden, berbagai kelompok bersaing memperebutkan pengaruh. Pendukung Hadi, Presiden yang melarikan diri ke Saudi; STC; dan Alqaeda merupakan kelompok-kelompok yang memiliki basis di sana. 

Beberapa waktu lalu, Alqaeda dilaporkan melakukan serangkaian serangan ke posisi STC demi membuka jalan masuknya milisi dari Suriah. Warga lokal setempat juga menyaksikan milisi Alqaeda berkeliaran di berbagai tempat. Selain itu, milisi berulang kali tampak menemui petinggi militer Saudi di barak mereka.   

Ketika milisi teroris dari Suriah menginjakkan kakinya dengan selamat di daratan Yaman, Salem bertugas mempersenjatai dan memberikan transportasi menuju Provinsi Marib. Ibu Kota Yaman, Sanaa, dan Marib hanya terpisah 173 kilometer atau seperti jarak Jakarta-Bandung. Selain kaya minyak, letak Marib dinilai strategis lantaran berada di tengah Yaman.  

Menurut sumber, milisi teroris dari Suriah didatangkan dengan tujuan membantu koalisi militer Saudi di Marib. Pasukan koalisi Saudi sedang bersusah payah mempertahankan daerah yang sempat mereka kuasai itu. 

Namun pasukan koalisi kini terdesak akibat kekalahan beruntun. Dalam operasi pembebasan Marib, tentara Yaman dan kelompok perlawanan Houthi Ansarullah berhasil memukul mundur mereka sejak Februari 2021.

Analis Timur Tengah Musa Kazhim Alhabsyi berpendapat, koalisi Saudi tak mempunyai kekuatan melawan Yaman di darat. Bahkan lewat serangan udara sekalipun. 

Suku Houthi, kata Musa, merupakan warga asli Yaman, turun temurun di sana dan menguasai medan, terkhusus di Yaman utara atau perbatasan Saudi. Dari balik bukit,  Houthi berkali-kali berhasil menembak jatuh pesawat tempur Saudi dan menangkap pilotnya. 

Walhasil, Saudi tak kunjung dapat menduduki Sanaa meski telah membombardir Yaman selama enam tahun. Dan Februari silam, pendukung terkuat Saudi, Amerika Serikat, mengumumkan penarikan dukungannya terhadap serangan militer ke Yaman. 

Bagi Musa, putusan Joe Biden itu membuat Riyadh harus berhadapan dengan Washington secara politik. Saudi di ujung tanduk. Kegagalan militer di Yaman disusul dengan kegagalan strategis dan politik. 

Meski demikian,  tampaknya Pemerintahan Raja Salman belum kapok. Kali ini, "Rezim Saudi mentransfer aset-aset Alqaeda-nya di Suriah ke Yaman dalam upaya mempertahankan tanah jajahannya di Marib," kata penulis buku Countering War Propaganda of the Dirty War on Syria, Tim Anderson, di laman Facebooknya, 5 April 2020. []