Langsung ke konten utama

Periode Menakutkan Bagi Israel




Oleh Syafin Al-Mandari

Inilah gerbang dari suatu periode yang amat menakutkan bagi Imperialis Israel. Tentu juga termasuk sekutu dan aliansi strategisnya di Barat dan Arab akan ikut khawatir akan hal ini.

Melihat fakta posisi Israel semenjak 1948 hingga sepuluh tahun lalu amat sulit membayangkan “negara” apartheid itu akan mengalami ketakutan. Selain kemajuannya yang kerap dibanggakan pemujanya, dukungan negara “adidaya” juga tak pernah surut di belakang Israel.

Apakah karena kini persenjataan kelompok Harakah Muqawwamah Al-islamiyah (HAMAS) kian canggih? Apakah karena dukungan Iran yang tak pernah surut? Apakah karena makin tingginya solidaritas dunia atas Palestina? Bukan!

Periode ketakutan Israel disebabkan faktor lain. Saat-saat amat mengerikan itu telah datang dan segera akan membesar dalam tahun-tahun ke depan. Masa inilah Israel tidak akan mengalami ketenangan. Mereka akan selalu gelisah dan dihantui keruntuhan.

Peristiwa Mei 2021 berupa hujan roket yang membanjiri Tel Aviv memang membuat otoritas Israel pucat pasi. Serangan rudal telah membuat detik demi detik kehidupan mereka selalu harus terjaga dan siap mengungsi. Ledakan-ledakan mesiu seakan menyicil kerusakan permanen berbagai barak militer dan fasilitas strategis Zionis dunia itu. Peristiwa ini memang membuat mereka memelas mohon gencatan senjata.

Bukan Israel yang dapat ditakuti oleh serangan-serangan itu. Puluhan tahun sejak peristiwa traumatis Yom Kippur (1973) Israel sering merasakan perlawanan besar. Hizbullah bahkan pernah dua kali menciptakan trauma yang seolah menghapus kejayaan Israel di peristiwa Nakbah (1948) dan Perang Enam Hari (1967). Milisi rakyat non-negara itu mengusir tentara Israel secara memalukan pada tahun 2000 dan memupuskan harapan mereka kembali ke Libanon Selatan dalam kekalahan Perang 33 hari tahun 2006. Terbukti Israel tidak pernah jera.

Israel selalu bangkit sebagai bangsa yang sulit diancam dan ditakut-takuti dengan misil dan rudal. Namun kini mereka telanjur memasuki gerbang baru yang dipenuhi ketakutan. Inilah gerbang dari suatu periode ketakutan yang belum pernah datang ke sejarah Israel.

Apa itu? Menyatunya kaum pembenci penjajahan dan kekejian tiran. Ketika dulu Israel selalu mengorkestrasi permusuhan Yahudi dan Islam di dalam konflik Palestina-Israel atau Arab-Israel, kini tinggal segelintir saja orang Islam atau Yahudi yang mau diadu seperti itu. Sepuluh tahun terakhir kita menyaksikan masifnya para Rabi Yahudi Antizionis menyerukan penghentian penjajahan oleh Israel di Palestina.

Israel tak kehilangan akal. Mereka (tentu saja beserta seluruh kelompok proxy yang terbentuk di berbagai negara) membesar-besarkan konflik Syiah-Sunni. Mereka tahu bahwa solidaritas Islam adalah pihak paling getol melawan Israel. Mereka masih bisa bernapas karena ada fakta Sunni berkonflik dengan Syiah. Jadi, meski sudah jelas bahwa Imam Khomeini yang Syiah sejak 1979 sangat terbuka getol menyerukan pembelaan terhadap Palestina yang umumnya Sunni, tapi selama lebih tiga puluh tahun kemudian banyak Syiah yang senang menyinggung kekeliruan Sunni, dan sebaiknya Sunni yang gencar menyebarkan bahwa Syiah itu bukan Islam.

Lain halnya dengan sepuluh tahun terakhir ini. Pecahnya perang di Suriah (2011) dan terbentuknya ISIS yang berhasil memobilisasi Sunni yang antisyiah dari berbagai negara ternyata membuka kesadaran umat Islam bahwa konflik artifisial mazhab-mazhab itu hanya merugikan manusia. Ia bahkan akan mengaburkan jejak Islam dalam misi kemanusiaan dan pemanusiaan.

Inilah saat Israel harus benar-benar bertemu dengan satu periode yang berbeda sama sekali dengan masa-masa lalunya. Sekali lagi, Israel memasuki periode paling menakutkan. Itu semua karena rudal yang digunakan HAMAS disuplay dari Iran. Sunni mempergunakan perangkat perang dari saudaranya yang Syiah. Bersamaan dengan itu Palestina menampik provokasi antisyiah. Berbagai proxy yang mencoba menyebarluaskan fitnah pertentangan antarmazhab dalam Islam kian diabaikan orang-orang berakal sehat. Kaum berakal sehat ini ternyata mayoritas dalam setiap mazhab Islam.

Atas nama konflik mazhab Syiah-Sunni negara-negara muslim hanya menyisakan sedikit saja orang yang masih bersikukuh saling menyerang. Perhatikan betapa Iran yang mendukung Suriah dan Yaman tidak pernah tertarik berkonflik langsung dengan Saudi dan Turki. Begitu juga Saudi dan Turki ternyata tak terhasut menyerang Iran. Iran memang hanya sedang menunggu nyali Israel untuk head to head di medan tempur. Dalam periode ketakutan ini Israel sebentar lagi akan diantar ke sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang Keputusasaan!”

Jadi, Bung, apa periode paling menakutkan bagi Israel itu? Bergandenganya sesama Islam, bahkan umat lain yang mencintai keadilan dan kedamaian.


Bekasi, 20 Mei 2021