Langsung ke konten utama

Aktivis Penentang Normalisasi UEA-Israel Tewas Misterius di London


Kabar kematian tokoh oposisi terkemuka Emirat, Alaa Al-Siddiq, yang juga Direktur Eksekutif Organisasi Hak Asasi Manusia Al-Qast, dalam kecelakaan lalu lintas di London, cukup mengejutkan banyak pihak.

Selama ini, baik di UEA maupun di tempat pengasingannya di London, Alaa dikenal aktif dalam membela perjuangan Palestina sekaligus melawan proyek normalisasi antara UEA dan Israel, dan dengan lantang menyebutnya sebagai “pengkhianatan” terhadap Palestina.

Tak sedikit sejawatnya di kalangan sesama aktivis yang curiga bahwa kecelakaan itu semacam peristiwa “pembunuhan terencana” oleh pihak-pihak yang ingin membungkamnya untuk selamanya, karena Alaa memang dikenal dengan sikap tegasnya dalam menolak kesepakatan normalisasi antara UEA dan Israel tersebut. Bahkan ada yang tanpa ragu menyatakan bahwa UEA-lah yang telah membunuhnya.

Menanggapi kematian Alaa, salah seorang warganet menggugat, “Kemarin telah terjadi pembunuhan atas Jamal Khashoggi dan hari ini Alaa Al-Siddiq. Berapa lama dunia akan diam atas ketidakadilan ini?”

"Aktivis UEA terkemuka Alaa Al-Siddiq meninggal dalam kecelakaan mobil di London. Beberapa aktivis mendesak penyelidikan atas kecelakaan itu," timpal yang lain.

"Tentu saja itu bukan kecelakaan yang kebetulan. Emirates yang kejam baru saja membunuhnya!"

"Mengapa Organisasi Internasional #HumanRights diam, tentang kematian aktivis hak asasi manusia Alaa Al-Siddiq (apakah mereka shock atau kematiannya tidak layak untuk diperhatikan)?"

Itulah di antara beragam komentar dan respons warganet di seluruh dunia terkait kematian Alaa Al-Siddiq. 

Siapa sebenarnya sosok Alaa yang kepergiannya begitu memantik simpati warga dunia? 

Seperti dilansir Paltimesps dan Times of Gaza, Alaa menghabiskan sebagian besar hidupnya berjuang untuk pembebasan ayahnya dari penjara UEA. Otoritas Emirat menangkap ayahnya, Mohammad yang juga dikenal vokal pada tahun 2013, dan dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Artinya, hingga ajal menjemput Alaa, dia belum sempat menyaksikan ayahnya yang memang belum juga dibebaskan.


"Terkejut dan hancur mengetahui berita tentang Alaa meninggalkan dunia ini dalam kecelakaan lalu lintas di London," ujar salah seorang sahabat Alaa. "Terakhir kali kami berbicara, dia ingin mengirimi saya hadiah pernikahan dan saya sangat tersentuh dengan kemurahan hatinya. Semoga jiwamu yang baik hati, pemberani, dan murah hati beristirahat dalam damai, temanku," tambahnya.

Rekan Alaa yang lain, Marwa Fatafta menyebut kematian aktivis perempuan ini sebagai hari yang sangat menyedihkan bagi komunitas hak asasi manusia, baik di kawasan Timur Tengah maupun global.



“Dia brilian, berani, cantik, dan sangat fasih berbicara. Sangat sedih mendengar bahwa Alaa, seorang aktivis HAM dari UEA ini tewas dalam kecelakaan mobil tadi malam di London saat merayakan ulang tahunnya. Ayahnya adalah seorang tahanan politik di UEA. Pekerjaannya baru saja dimulai,” ungkap Marwa. []