Langsung ke konten utama

Balon, Mainan Bersahaja yang Membesarkan Hati Anak Gaza

Penjual balon jalanan, Mohammed Jamal A'ram, berlindung di balik atapnya ketika jet-jet tempur Israel membombardir tanah airnya, Jalur Gaza, Palestina. Rumah susun menara Al Shrouq di bilangan Ramil, tempat jualan favoritnya, rata dengan tanah setelah dua kali dihantam ledakan misil.

"Kami semua sangat kalut," kata pria berkacamata ini.

Jamal tinggal di rumah bersama orang tuanya. Ia masih bujang, usianya 25 tahun dan sedang berupaya menabung dari hasil jualan balon untuk menikah.  

"Saya belum mendapatkan pekerjaan lain," ujarnya. "Bahkan untuk mendapatkan balon pun sangat sulit karena pembatasan yang dilakukan Israel." 

Israel memblokade Jalur Gaza sejak 14 tahun lalu. Setahun setelah Hamas, kelompok perlawanan berbasis di Gaza, memenangkan pemilihan legislatif Palestina. 

Isolasi Gaza seolah melengkapi nestapa warga Palestina yang hampir saban hari menerima perlakuan keji aparat Tel Aviv. 



Wajar bila wilayah Palestina di tepi Laut Tengah ini menanggung krisis ekonomi akut. Hancurnya infrastruktur berdampak pada seluruh sendi kehidupan masyarakat Gaza.

Menurut Direktur Kadin Gaza, Maher Al Tabbaa, sudah banyak lembaga internasional yang memperingatkan imbas mengerikan jika blokade terus berlanjut.  Israel juga berkali-kali mengumumkan tentang pelonggaran blokade walau hanya memutar lidah. Sejumlah perbatasan justru memperketat akses keluar masuk barang.  

Otoritas Benjamin Netanyahu masih mencegah masuknya berbagai macam jenis barang, termasuk bahan bangunan, ke Gaza. Demikian juga ekspor produk industri dan pertanian dari Gaza.

Dua tahun lalu, Israel membatasi ekspor balon ke Gaza. Inilah yang membuat lapak Jamal terseok-seok. Apalagi ketika Gaza turut terkena pandemi Covid-19 dan karantina wilayah diterapkan. Jalan-jalan yang biasanya dilintasi anak-anak bersama keluarganya menjadi sepi.    

"Saya tidak punya pendapatan tetap, oleh karena itu terkadang saya tidak punya uang untuk membeli makanan," ujarnya.  

Pada 10 Mei 2021, ketika umat Islam di berbagai belahan bumi bersiap merayakan Idul Fitri, Palestina kembali berduka. Setidaknya dua ribu kali serangan pesawat tempur Israel menghajar Gaza dengan 700 ton bom sejak 10 hingga 21 Mei. 

Akibatnya, 255 orang Palestina kehilangan nyawanya, termasuk 66 anak dan 39 wanita. Di samping itu, 1.900 orang mengalami luka-luka. Permukiman hingga toko banyak yang hancur, termasuk di Ramil.

Jamal bersama orang tuanya berlindung di dalam rumahnya. Ia mengaku stres selama perang 11 hari. "Kami kalut bukan hanya lantaran pertempuran di luar tapi juga karena kami kehabisan uang."

Tapi pascapalagan, warga Gaza beramai-ramai turun ke jalan. Mereka merayakan kemenangan kelompok perlawanan di Gaza atas Israel. 



Rezim militer yang pernah mengalahkan gabungan tentara Liga Arab dalam enam hari pada 1967 ini tak sanggup menaklukkan Gaza. Wilayah Palestina seluas Kota Surabaya ini ternyata dapat memberikan perlawanan dengan melesatkan empat ribu rudal. Tel Aviv akhirnya menerima gencatan senjata.   

Jalan-jalan Gaza tampak penuh dengan manusia. Mereka memeriahkan kemenangan dengan kembang api, balon, hingga mengibarkan panji Brigade Izzudin Al-Qassam, sayap militer Hamas di atas reruntuhan.  

"Alhamudillah, dagangan mulai jalan lagi," ujar jamal. 

Dengan momen kemenangan Gaza ini, ia berharap masa depan lebih cerah lagi. "Pada akhirnya," kata Jamal, "tak ada lain dalam hidup ini kecuali bertahan mengarungi kehidupan dengan cara bermartabat."

Di pinggir jalan, di antara puing-puing bangunan, Jamal mendagangkan kembali balonnya yang warna-warni itu. Anak-anak, kata dia, sangat menyukai balon. Jamal kerap memperhatikan senyum  anak-anak merekah lebar saat tangannya yang mungil memegang balon. "Mainan sederhana ini dapat membuat anak-anak begitu bahagia," katanya.[] 



Sumber: palestinechronicle.com dan middleeastmonitor.com