Langsung ke konten utama

Gelombang Simpati Dunia atas Kematian Misterius Alaa

Selain mengejutkan banyak pihak tak ubahnya kasus pembunuhan tragis atas tokoh oposisi Arab Saudi, Jamal Khashoggi di Turki. Begitu juga berita kematian misterius tokoh oposisi terkemuka Uni Emirat Arab, Alaa Al-Siddiq (33), pada Sabtu (19/6) lalu di London, terus memantik gelombang simpati dari berbagai kalangan aktivis pembela HAM dari seluruh dunia. Tak terkecuali juga dari Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia, Mary Lawlor.

Dari ratusan ungkapan dukacita dan simpati yang hingga saat ini terus mengalir di dunia maya, berikut kami pilihkan beberapa di antaranya.

“ALQST berduka atas kematian Direktur Eksekutifnya, ikon gerakan hak asasi manusia Emirati Alaa Al-Siddiq, dalam kecelakaan lalu lintas yang tragis. Alaa adalah teman, kolega, dan saudara perempuan bagi semua orang di sekitarnya, dan selalu melakukan apa yang dia bisa untuk membantu orang lain.” (ALQST-Organisasi Pendukung Hak Asasi Manusia, yang Alaa Al-Siddiq selaku Direktur Eksekutifnya)

“Dengan kesedihan dan duka sangat mendalam, Koalisi WHRDMENA menerima kabar meninggalnya WHRD Alaa Al-Siddiq, yang tanpa lelah membela hak para tahanan hati nurani di UEA, Teluk dan Kawasan. Kami berdiri dalam solidaritas dengan rekan-rekannya, dan salut dengan ingatan dan perjuangannya.” (WHRD-Women Human Rights Defenders in Middle East and North Africa/Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia di Timur Tengah dan Afrika Utara)

Ini sangat menyedihkan dan mengejutkan. Alaa Al-Siddiq meninggal dalam kecelakaan mobil kemarin. Pada hari Jumat. dan saya berbicara dengannya. Dia telah mengorganisir pertemuan mendalam #hrds dari #Iraq dan #Syria. Saya tidak percaya bahwa #HRD muda yang unik sudah meninggal. Simpati yang tulus untuk keluarga & teman-temannya (Mary Lawlor, Pelapor Khusus PBB untuk Pembela Hak Asasi Manusia)

“Kecelakaan lalu lintas di #London telah merenggut nyawa Alaa Al-Siddiq, seorang aktivis yang berjuang untuk pembebasan tahanan politik yang menderita di sel penjara Emirat, termasuk ayahnya. Dia telah menghabiskan hidupnya membela hak asasi manusia, ini adalah kerugian yang tragis.” (Jacob Morris, Pengamat Politik Timur Tengah dan Afrika Utara )


“Kami kehilangan suara dan kata-kata, kami merasa selalu kalah tanpa kemampuan untuk mundur selangkah dan berduka atas kehilangan kami. Kita harus mengakui bahwa kepergian Alaa merupakan pukulan bagi gerakan kita dengan segala kerumitannya. Kita layak meratapinya. Perjuangannya harus kita kenang dengan baik.

“Bagaimana cara mengenang Alaa Al-Siddiq? Bagaimana cara mengingatnya, dan perjuangannya untuk keadilan dengan benar? Perkenalan pertama saya dengan Alaa adalah ketika dia mengulurkan tangan mengenai artikel yang saya tulis tentang perjalanan UEA ke Mars. Dan saya telah terlibat dengannya sejak itu, belajar darinya, mengagumi karyanya.

“Jangan mengingat solidaritas Alaa Al-Siddiq dengan Palestina semata sebagai sesuatu yang luar biasa. Apa yang sudah dilakukannya membutuhkan keberanian, ketulusan dan dan kekuatan tetapi juga bertindak sebagai pengingat bagaimana orang-orang kami (bukan pemerintah), di seluruh wilayah, selalu berjuang untuk pembebasan Palestina, yakni front persatuan masyarakat sipil Arab untuk keadilan.

“Karena itulah kami tidak akan berhenti sampai dunia yang Alaa Al-Siddiq ingin ciptakan menjadi kenyataan.” (Islam Al-Khatib - Pengungsi Palestina, sahabat Alaa yang kini tinggal di Beirut, Lebanon) []