Langsung ke konten utama

Israel Halangi Pasien Kanker di Gaza Berobat ke Yerusalem





Israel menghalangi pasien kanker di Jalur Gaza berobat ke Yerusalem Timur, Palestina. Meski perang 11 hari telah berakhir pada 21 Mei, Tel Aviv enggan membuka akses keluar masuk Gaza bagi orang sakit yang urgen membutuhkan tindakan medis.   

Para dokter, keluarga dan advokat kemanusiaan, menurut laporan The Washington Post, telah meminta otoritas Israel membukakan pintu pelintasan keluar Gaza. Setidaknya mengizinkan pesien yang keadaannya rentan mengalami kritis sebelum kondisinya kian parah dan tak bisa tertolong.   

Padahal, pada pekan lalu, Israel telah berjanji membukakan pintu pelintasan Beit Hanoun bagi pasien yang memiliki surat izin keluar. Selain itu, tim kemanusiaan, alat medis, makanan dan BBM bakal dibiarkan masuk ke wilayah yang telah terblokade 14 tahun ini.  

Ternyata hanya lidah keling. Ucapan rezim Benjamin Netanyahu tak dapat dipegang. 

Nelayan di selatan Gaza, Husain Najjar, mengatakan, ibunya yang berusia 61 tahun menderita kanker kolorektal dan paru-paru. Sejak terhenti mengikuti perawatan kanker kemoterapi reguler di Rumah Sakit Augusta Victoria, Yerusalem Timur, kondisi sang ibu semakin terpuruk.  

"Bahkan jika dijanjikan untuk mendapat izin hari ini, kami tak tahu kapan pintu pelintasan dibukakan agar ibu bisa pergi (ke rumah sakit)," kata Najjar.

Nasib malang keluarga ini tidak hanya di situ. Perahu Najjar bersama perahu nelayan lainnya rusak akibat serangan pesawat tempur Israel belum lama ini. Jadi, sudah jatuh terimpit tangga lagi.

Kini mereka hanya bisa bertahan hidup dengan donasi Oxfam International sebesar 50 dolar atau sekitar 700 ribu rupiah per bulan.  

***



Gaza menderita akibat blokade yang dibuat Israel sejak 2007. Isolasi ini seolah melengkapi nestapa masyarakat Gaza yang hampir saban hari menerima perlakuan keji tentara Tel Aviv. 

Salah satu akibatnya, sistem layanan kesehatan rapuh. Rumah sakit setempat belum bisa memberikan layanan yang banyak dibutuhkan oleh penderita penyakit berat. Fasilitas radiasi, misalnya, belum tersedia di sana. 

Hingga tahun 2020, situasinya tidak berubah. Kebanyakan lintasan komersial ditutup, sebagian lagi bahkan telah dihilangkan.  

Ketika perang 11 hari 2021 mulai, Israel menutup seluruh akses keluar masuk Gaza. Tapi setelah gencatan senjata, Israel tetap enggan membukakan pintu warga sipil yang sakit dan mendesak dibawa ke rumah sakit. 

Setelah 14 tahun blokade mencekik, kata Direktur Kadin Gaza Maher Al-Tabba, inilah waktunya lembaga-lembaga internasional mendorong penegakan hukum, menjalankan tugas kemanusiaan dan memastikan kebutuhan dasar warga Gaza terpenuhi. Penduduk Gaza mesti terbebas dari kerangkeng terbesar di bumi ini. Rezim Israel harus ditekan secara nyata dan serius agar blokade yang tak adil ini segara diakhiri.[]

  

Sumber: middleeastmonitor.com