Langsung ke konten utama

[VIDEO] Sliman Mansour dan 'Semangka Perlawanan'

Sebuah laporan di The New York Times dari Oktober 1993, beberapa minggu setelah penandatanganan Kesepakatan Oslo antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina –yang melahirkan Otoritas Palestina– secara singkat merujuk pada penangkapan terkait aksi membawa “bendera” berwujud buah semangka.

“Di Jalur Gaza, di mana para pemuda pernah ditangkap karena membawa irisan semangka –yang menampilkan warna Palestina merah, hitam dan hijau”, kata laporan itu.

Kisah lain melibatkan seniman Sliman Mansour, Nabil Anani dan Issam Badr, yang pamerannya di Galeri 79 pada tahun 1980 ditutup oleh tentara Israel karena karya seni tersebut dianggap politis dan memuat bendera Palestina dan warnanya. Menghadapi petugas, Badr bertanya, "Bagaimana jika saya hanya ingin melukis semangka?", yang dijawabnya, "Itu pun akan disita."

Mansour, sekarang berusia tujuh puluhan dan tinggal di Birzeit, mengingat kejadian itu, tetapi mengklarifikasi beberapa detail untuk The National. Dia ingat bahwa pameran di Galeri 79 hanya dibuka selama tiga jam sebelum tentara mengosongkan ruang pameran dan menguncinya. Dua minggu kemudian, petugas Israel memanggil tiga seniman, memperingatkan mereka untuk berhenti memproduksi lukisan politik, dan mungkin bisa mulai melukis bunga sebagai gantinya.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa melukis bendera Palestina dilarang, tetapi juga warnanya dilarang. Maka Issam berkata, 'Bagaimana jika saya membuat bunga merah, hijau, hitam dan putih?', yang dijawab petugas dengan marah, 'Itu akan disita. Bahkan jika Anda melukis semangka, itu akan disita.’ Jadi semangka itu disebutkan, tetapi oleh tentara Israel,” jelas Mansour. 

Lebih lanjut Mansour menegaskan dirinya akan terus berkarya, tak peduli apakah langkahnya akan membuat Israel, Amerika, Eropa atau siapa pun marah dan tak terima. Karena dia yakin, rakyat Palestina dan para pendukung mereka di seluruh dunia, menyukainya. []