Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Ratusan Pekerja Yaman Dipecat di Saudi

Ratusan pekerja asal Yaman di selatan Arab Saudi dilaporkan menerima pemutusan hubungan kerja. Kabar ini diterima oleh Reuters dari warga Yaman di Arab Saudi, 17 Agustus 2021.  Jumlah pasti orang Yaman yang dipecat tak diketahui, namun Reuteres memperkirakan ratusan orang. Mereka bekerja di bidang medis, akademik dan berbagai bidang lainnya.  Belum ada keterangan resmi mengenai berita ini. Baik otoritas Saudi maupun Yaman belum menanggapi temuan reporter.  Para pejabat Saudi di sejumlah instansi mengaku tidak menerima sesuatu apapun yang membenarkan adanya instruksi pemerintah untuk tidak memperbaharui kontrak kerja warga Yaman.  Sementara orang Yaman mengaku tidak mengetahui alasan pemecatan. Mereka juga enggan berspekulasi.  Seorang Analis Saudi mengatakan, langkah ini bertujuan membuka peluang kerja untuk warga Saudi di bagian selatan. Kerajaan ingin mengurangi angka pengangguran yang telah mencapai 11,7 persen (dari jumlah populasi angkatan kerja). Selain itu, katanya, kebijakan

Apa yang Diabaikan Media di Afghanistan

Oleh Musa Kazhim Al-Habsy   Pada 26 Agustus 2021 terjadi ledakan bom di luar Bandara Kabul, Afghanistan. Serangan itu dilaporkan menyebabkan ratusan warga Afghanistan dan belasan pasukan Amerika Serikat tewas. Dilaporkan pula bahwa kelompok yang disebut “ISIS-Khurasan” (ISIS-K) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Lalu, menyusul serangan itu, sejumlah anggota Kongres Amerika memberi penyataan agar pasukan Amerika tidak meninggalkan Afghanistan begitu saja tapi harus tetap di sana untuk memburu pelaku serangan tersebut dan membalaskan dendam Amerika. Pada artikel sebelumnya, saya telah menyatakan bahwa invasi Amerika ke Afghanistan itu sendiri merupakan sebuah kesalahan strategis karena ternyata setelah 20 tahun invasi, Amerika nyaris tidak mendapatkan apa-apa dan juga tidak berhasil meraih tujuan-tujuan yang telah dideklarasikan sejak awal invasi itu. Pertama, menghancurkan Taliban. Tujuan ini secara eksplisit disampaikan George W Bush. Tapi, pada akhirnya, Ameri

Hamas Serukan Tekanan kepada Israel untuk Mengakhiri Blokade Gaza

  Kelompok perlawanan di Palestina, Hamas, menyerukan untuk meningkatkan tekanan kepada Israel agar Tel Aviv mengkahiri 15 tahun blokade atas Gaza. "Kami menyerukan kepada semua untuk mengambil tanggungjawab dan menekan penjajah (Israel) untuk mengakhiri blokadenya yang zalim itu," kata juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, seperti dikutip Anadolu Agency, 29 Agustus 2021 Dia mengingatkan, perdamaian dan stabilitas tidak akan terwujud selama rakyat Palestina tidak memiliki kebebasan dan martabat hidup. Hamas meminta Israel bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan di Gaza akibat blokade. "Rakyat Palestina tidak akan menerima kebijakan Israel atau kompromi apapun terkait hak-hak bangsa mereka," katanya Protes demi protes mengeskalasi di Gaza dalam beberapa pekan terakhir lantaran Isarel melanjutkan pembatasan masuknya barang-barang ke wilayah Palestina. Tel Aviv menegaskan, pihaknya tak akan mengizinkan bahan bangunan masuk ke Gaza kecuali Hamas, yang berkuasa di Gaza sej

Hari ini 34 Tahun Lalu, Kartunis Palestina Naji al-Ali Dibunuh Israel

Hari ini (29/8) menandai peringatan 34 tahun pembunuhan kartunis dan karikaturis terkenal Palestina, Naji al-Ali oleh rezim Zionis Israel. Dia terkenal karena kritik politiknya yang tajam atas rezim Arab dan rezim penjajah Israel dalam setiap karyanya. Naji Al-Ali lahir di Palestina pendudukan 1948 dan mencari perlindungan pada tahun 1948 di Ein Al Hilweh, Lebanon. Kartunis legendaris yang menciptakan sosok misterius "Handala" ini ditembak pada 22 Juli 1987 di London dan meninggal pada 29 Agustus 1987 karena luka parah akibat penembakan brutal tersebut. Aksi pembunuhan itu menjadi bukti bahwa rezim palsu ini memang tidak bisa mentolerir siapa pun yang bersuara kritis atau terang-terangan menentang aksi penjajahan, sehingga Israel dengan cara brutal pasti akan menangkap bahkan membunuh mereka. []

Prosesi Pemakaman Jenazah Demonstran Muda Palestina yang Dibunuh Israel

Seorang pemuda Palestina dinyatakan meninggal pagi ini akibat luka tembak yang dideritanya saat mengambil bagian dalam unjuk rasa yang diadakan beberapa hari lalu di pagar timur Gaza, kata Pusat Informasi Palestina. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, pemuda tersebut adalah Osama Khaled yang berusia 32 tahun. Sabtu lalu, pasukan pendudukan Israel menembakkan peluru tajam ke para pemuda dan melukai banyak dari mereka saat mereka berkumpul di pagar yang memisahkan daerah kantong yang terkepung dari Israel, sebagai protes atas pengepungan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza. Setidaknya 41 pengunjuk rasa muda, termasuk anak-anak, terluka oleh tembakan Israel selama protes tersebut. []

Lebih dari 120 Cendekiawan dan 20 Organisasi Budaya Finlandia Seru Akhiri Apartheid Israel

Lebih dari 120 cendekiawan dan seniman, juga 20 organisasi budaya dan lembaga akademis telah berjanji mendukung seruan Palestina untuk boikot akademis dan budaya terhadap lembaga-lembaga Israel yang terlibat. “Kami mengutuk penjajahan, pendudukan, dan kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina,” kata mereka dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan belum lama ini. “Organisasi hak asasi manusia B’Tselem dan Human Rights Watch (HRW) tahun ini menyimpulkan bahwa kebijakan rezim Israel sama dengan kejahatan apartheid sebagaimana didefinisikan dalam hukum internasional. Masyarakat sipil internasional telah bangkit untuk secara luas mendukung hak-hak Palestina,” lanjut mereka. “Media internasional telah mulai beralih dari normalisasi pendudukan tanah Palestina dan penganiayaan terhadap warga Palestina, dan membungkam para kritikus, menjadi melaporkan secara terbuka tentang situasi tersebut.” “Pembelaan hak asasi manusia telah didorong oleh gerakan antirasis global, khususnya perubahan atmosfe

HRW Kritik PBB Tak Masukkan Israel dan Koalisi Agresor Saudi ke ‘Daftar Memalukan’

Human Rights Watch (HRW) mengkritik kegagalan PBB untuk memasukkan Israel dan koalisi Arab Saudi yang mengagresi Yaman dalam daftar negara-negara yang melanggar hak-hak anak, yang dikenal sebagai "Daftar Memalukan", yang dikeluarkan setiap tahun oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres.   “Hal ini melukai anak-anak terkait penderitaan mereka dengan tidak memasukkan Israel, koalisi Arab yang dipimpin Saudi dan pelanggar lainnya dalam daftar yang memalukan," kata Jo Becker, Direktur pembela hak-hak anak di organisasi HAM internasional yang berbasis di New York.   "Kegagalan berulang Sekretaris Jenderal untuk membangun daftarnya berdasarkan bukti PBB sendiri merupakan pengkhianatan terhadap anak-anak dan memicu impunitas," tambah Becker.   Becker kemudian melanjutkan, "Sekarang setelah masa jabatan keduanya sebagai Sekretaris Jenderal dijamin, dia harus meninggalkan pendekatan ini, dan memastikan bahwa daftarnya mencerminkan fakta

Air Mata Buaya Eropa di Hadapan Aksi Represif Pasukan Keamanan Otoritas Palestina

Jika tak tulus, solidaritas tidak berarti apa-apa. Kalimat itulah yang mungkin pas untuk menggambarkan solidaritas palsu para diplomat Eropa terhadap penderitaan warga Palestina yang selain ditindas Israel, juga kerap diperlakukan sewenang-wenang oleh polisi Otoritas Palestina (PA). Seperti apa contoh utama solidaritas tak tulus alias palsu itu? Mungkin kita dapat mencermati dari bagaimana aksi diplomat Eropa yang berbasis di Tepi Barat yang diduduki, khususnya dalam mempromosikan kegiatan mereka. Sering kali, mereka mengorganisasi aksi di mana mereka difoto dengan pose menghibur yang tertindas. Terlalu sibuk meneteskan air mata buaya, para diplomat "lupa" bahwa pemerintah mereka sendirilah yang memungkinkan penindasan rezim apartheid Israel terhadap Palestina. Utusan Eropa tampaknya tidak berkumpul untuk pemotretan minggu ini, namun mereka mengeluarkan pernyataan. Pernyataan tersebut mengungkapkan "keprihatinan" tentang penangkapan aktivis politik baru-baru ini ole

Detak Rasisme di Jantung Israel Harus Segera Diakhiri

Banyak organisasi internasional dan kelompok hak asasi manusia telah mengonfirmasi bahwa Israel memberlakukan rezim rasis—"apartheid"—yang menindas rakyat Palestina. Rezim ini menyangkal hak-hak dasar mereka dan menghadapkan mereka pada serangan berulang-ulang oleh pemukim Yahudi ilegal, yang meningkatkan ketegangan di wilayah Palestina yang diduduki dan di dalam Israel sendiri. Orang-orang Palestina terus dipukuli, dibunuh, diusir, dan dipindahkan secara paksa. Pada 9 Mei, pihak berwenang Israel berusaha mencegah ribuan warga Palestina yang tinggal di wilayah Palestina yang diduduki tahun 1948 — mereka adalah warga negara Israel — untuk mencapai Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki untuk memperingati malam ke dua puluh tujuh bulan suci Ramadan, yang adalah malam suci bagi seluruh umat Islam. Protes massal menyusul, dan pemukim Zionis tidak segan-segan menyerang warga Palestina dengan peluru tajam dan granat tangan. Pemerintah Israel mendorong kebijakan memecah bel

Rezim Penjajah Israel Setujui Pembangunan 'Jalan Khusus' Pemukim Ilegal Yahudi Tepi Barat

Saluran ketujuh Israel melaporkan bahwa apa yang disebut administrasi sipil pada hari Rabu menyetujui perpanjangan jalan khusus pemukim nomor 55 di Utara Tepi Barat. Menurut saluran Israel, persetujuan justru datang menyusul keberatan yang dibuat oleh petani Palestina, yang tanahnya akan disita karena perluasan jalan. Perluasan jalan khusus pemukim ekstremis Yahudi, yang menghubungkan permukiman ilegal Kfar Saba dan permukiman di Utara Tepi Barat, akan berarti penyitaan 68 dunum tanah Palestina. Persetujuan itu juga datang hanya satu hari sebelum pertemuan antara Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan Presiden AS, Joe Biden. Dalam nada yang sama, Haaretz melaporkan bahwa rezim pendudukan berencana untuk memperluas permukiman yang dekat dengan jalan, dengan membangun 5650 unit permukiman tambahan. []

[FOTO] - Tuntut Pencabutan Blokade, Warga Palestina Kembali Demo di Perbatasan Gaza

Warga Palestina ambil bagian dalam protes damai di perbatasan Gaza, timur kota Khan Younis, menyerukan pencabutan blokade yang diberlakukan di daerah kantong yang terkepung dan sebagai protes atas pelanggaran Israel di Yerusalem yang diduduki. Dalam aksi tersebut, seperti dilaporkan koresponden QNN, setidaknya 20 warga Palestina terluka setelah pasukan pendudukan Israel melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa, termasuk tiga di antaranya dengan peluru tajam.[]

Hamas: Rezim Zionis 'Bangkrut' Hadapi Ketangguhan Rakyat Palestina

Menanggapi serangan udara terbaru pasukan rezim Zionis yang membabi-buta atas Gaza, Hamas mengatakan bahwa aksi biadab tersebut membuktikan "kebangkrutan" politik rezim penjajah Israel. Dalam sebuah pernyataan, pejabat Hamas Ismail Ridwan mengatakan, "Serangan Israel membuktikan kebingungan dan kegagalan penjajah Israel dibandingkan dengan ketabahan dan ketahanan rakyat Palestina." "Rakyat dan perlawanan kami siap menghadapi tantangan dan mampu merusak rencana pendudukan Israel." Dia menekankan, "Kami akan melanjutkan perlawanan dan serangan udara justru akan makin menguatkan kegigihan kami untuk mendapatkan kembali hak-hak kami." Pesawat-pesawat tempur Israel tadi malam melakukan serangan udara di beberapa lokasi di Jalur Gaza, kata sumber keamanan setempat. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, tetapi para petani Palestina mengatakan tanah mereka rusak parah akibat serangan  membabi-buta tersebut. []

Ingin Terbebas dari Blokade, Anak-anak Gaza Lepaskan Balon

Anak-anak Palestina di Gaza melepaskan balon terbang bebas ke langit, 14 Agustus 2021. Aksi itu sebagai bentuk ekspresi mereka menginginkan terbebas dari blokade Israel yang telah masuk tahun ke-15. Pelepasan balon dilakukan dalam sebuah unjuk rasa warga Gaza  di perbatasan Beit Honoun-Erez, utara Gaza. Warga menuntut kebijakan Israel menutup akses keluar-masuk Gaza diakhiri. Selain melepaskan balon, mereka membentangkan spanduk bertuliskan, " Kami ana-anak Palestina... Kami tertindas di tanah air sendiri." "Mereka memblokade, mengisolasi hidup kita, merampas kebebasan dan mencerabut kita dari hak-hak dasar dan dari kehidupan yang layak" kata salah satu anak, Ahmad Abu Askar, seperti dilaporkan Anadolu Agency.

[VIDEO] - Naftali Bennett Akui Sengaja Pengaruhi Konten Wikipedia Sesuai Selera Zionis

Beredar sebuah video yang menunjukkan pengakuan Perdana Menteri Israel yang baru, Naftali Bennett yang menyatakan, "Kami ingin memengaruhi apa yang tertulis di Wikipedia untuk memastikan itu seimbang atau bersesuaian dengan sifat atau selera Zionis."  Video berdurasi 2:02 menit tersebut tampaknya sudah terdokumentasi sejak lama yakni 10 tahun lalu, tepatnya pada 16 Maret 2011. []

[FOTO] - Semangat Anak Palestina yang Diamputasi, Belajar Renang dengan Satu Kaki

Meskipun anak-anak Palestina yang diamputasi ini kehilangan kaki mereka akibat serangan Israel di Gaza, namun mereka tetap bersikeras menantang diri mereka sendiri untuk belajar berenang hanya dengan menggunakan satu kaki. Foto oleh: Ashraf Amra []

Amnesty International Desak Mahmoud Abbas Stop Tindas Demonstran

Amnesty International mendesak Presiden Otoritas Palestina (PA), Mahmoud Abbas untuk mengakhiri penindasan dan memerintahkan pembebasan segera dan tanpa syarat semua aktivis dan demonstran kritis yang ditahan semata-mata karena memprotes secara damai dan mengekspresikan pendapat mereka.  Di samping itu, Amnesty juga mengimbau negara-negara anggota Uni Eropa, AS, dan Inggris agar segera bertindak dan menghentikan bantuan keamanan atau bantuan militer kepada aparat keamanan atau polisi Otoritas Palestina hingga pertanggungjawaban dan penghormatan terhadap hak asasi manusia benar-benar dijamin. []

OCHA: 1 dari 2 Warga Yaman Tak Punya Akses ke Air Bersih

Terhitung 1 dari setiap 2 orang di Yaman tidak memiliki akses memadai ke air bersih. Hal ini disampaikan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). OCHA juga menekankan bahwa dengan terpaan pandemi COVID-19 dan risiko penularan penyakit melalui air yang juga meningkat, maka kekurangan air bersih ini bisa lebih mematikan daripada kekerasan yang dilancarkan koalisi agresor Saudi di negara yang dipaksa berperang selama hampir tujuh tahun tersebut. []

[VIDEO] - Aktivis Palestine Action Serukan #ShutElbitDown

Kelompok aktivis pro-Palestina di Inggris, yang menamakan diri mereka "Palestine Action", diketahui kembali menggelar protes di luar pabrik perusahaan pemasok senjata Israel yang berada di wilayah Oldham. Kelompok tersebut telah berkampanye dengan penuh semangat melawan Elbit, produsen senjata terbesar Israel, di seluruh Inggris sejak tahun lalu, dengan menargetkan sejumlah situs yang dimiliki oleh perusahaan senjata tersebut. Para pengunjuk rasa mengatakan pabrik-pabrik yang dimiliki oleh rezim Israel memproduksi kendaraan udara tak berawak yang telah digunakan untuk memberikan efek mematikan pada warga Palestina di Jalur Gaza yang terkepung. []

Lagi, Aktivis pro-Palestina Duduki Pabrik Senjata Israel di Inggris

Sebagai bagian dari kampanye nasional mereka melawan produsen senjata Israel, aktivis pro-Palestina di Inggris telah menggelar protes di luar pabrik perusahaan pemasok senjata Israel yang berada di wilayah Oldham. Palestine Action, kelompok advokasi pro-Palestina yang berbasis di London, membagikan serangkaian tweet yang menunjukkan aktivis bertopeng berdiri di atap pabrik senjata Israel pada Senin (23/8), memegang spanduk bertuliskan "Shut down Elbit". Mereka mengumumkan bahwa pihaknya telah kembali ke atap pabrik senjata Israel di Oldham "sekali lagi", menyemprotnya dengan alat pemadam kebakaran, dan "membongkar keuntungan sepihak dari aksi pendudukan militer dan memadamkan Elbit melalui tindakan langsung". Kami telah dibawa ke atap pabrik senjata Israel di #Oldham sekali lagi, menyemprotnya merah darah dengan alat pemadam kebakaran, mengungkapkan keuntungan dari pendudukan militer dan memadamkan Elbit melalui tindakan langsung. #ShutElbitDown — Aksi Pal