Langsung ke konten utama

Dimensi-Dimensi Kemunculan “Taliban 2.0”

Oleh Musa Kazhim Al-Habsyi

Isu Afghanistan memiliki banyak dimensi dan aspek. Media mainstream dan juga media sosial menampilkan isu ini seolah-olah hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi Taliban dan konflik internal di Afghanistan.

Pengambilalihan Kabul oleh pasukan Taliban pada 15 Agustus 2021 bukanlah sesuatu yang mengejutkan sebagaimana digambarkan media mainstream. Sebenarnya laporan-laporan tentang penguasaan Taliban terhadap berbagai wilayah di Afghanistan sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Bahkan kita tahu pada dasarnya Amerika juga tidak pernah bisa sepenuhnya mengalahkan Taliban. Sejak invasi 2001, Amerika dan koalisinya juga tak pernah bisa merebut wilayah-wilayah stronghold Taliban.

Lebih daripada itu, kekuatan Amerika dan koalisinya juga mengalami berbagai serangan serius. Artinya, resistensi dan perlawanan Taliban selalu ada sejak invasi Amerika 2001.

Judul besarnya adalah kekalahan Amerika Serikat

Kisah kemenangan Taliban ini sebenarnya lebih merupakan pengalihan isu dari kekalahan Amerika Serikat, yang seharusnya ditekankan. Isu ini adalah isu kekalahan Amerika alih-alih isu kemenangan Taliban. Sebab, tujuan dan ambisi Amerika mencabut Taliban, dan semua kekuatan yang semula bekerja sama dengan Al-Qaeda, sampai ke akar-akarnya tidak pernah terwujud.

Sebetulnya kegagalan Amerika itu bukan hanya terjadi di Afghanistan tapi di manapun pasukan Amerika berada. Klaim mereka selalu saja lebih besar daripada kenyataan di lapangan. Selalu saja kemenangan Amerika itu kemenangan propaganda media, dan ketika terjadi kekalahan, biasanya mereka punya isu untuk mengalihkan kekalahan mereka itu kepada isu konflik internal atau isu kekuatan Taliban yang didukung oleh kekuatan asing lain. Walhasil, orang-orang Amerika dan mereka yang mengagumi Amerika selalu punya cara untuk menghalau tembakan yang sebenarnya dengan mencari-cari isu-isu lain.

Judul besar di media, baik media utama ataupun media sosial, itu pada dasarnya ingin mengatakan bahwa ini lebih sebagai penarikan pasukan Amerika dan bukan kekalahan Amerika. Selalu disampaikan seperti itu sejak 1975 ketika Amerika kalah di Vietnam. Kekalahan itu tidak akan pernah diterima sebagai kekalahan. Itu cara yang sangat efektif bagi orang yang tidak terlalu mendalami masalah. Kebanyakan orang menonton dan mengonsumsi media tanpa pendalaman dan investigasi yang serius. Itu yang akan mereka terima, dan itulah judul yang terpatri di kepala dan ingatan sebagian besar konsumen media.

Padahal, judul besarnya ini seharusnya kekalahan Amerika.


Dimensi intervensi asing

 Kalau kita bicara Taliban, orang yang mampu berbahasa Persia pada umumnya tahu bahwa kata ini adalah serapan dari bahasa Arab thalib, yang artinya ‘pelajar agama’. Jadi, taliban jamak atau kata plural dari thalib, yang artinya adalah para santri, para pelajar agama.

Taliban sudah menjadi bagian dari masyarakat Afghanistan jauh sebelum era 1980-an. Tapi kemudian, Taliban ini digerakkan atau dimobilisasi oleh elite mereka untuk ikut serta dalam gerakan melawan Uni Soviet di era 1980-an. Gerakan melawan invasi Soviet ini dimulai dengan gerakan mengganyang pemerintahan komunis di Kabul ketika itu, yang kemudian mengakibatkan Soviet masuk ke Afghanistan dan mempertahankan Kabul. Setelah sekitar 10 tahun berada di sana sebagai pasukan pendudukan, Soviet akhirnya terusir.

Nah, gerakan melawan kekuatan asing itu melibatkan Taliban dan non-Taliban. Inilah yang disebut dengan kelompok “Mujahidin”.

Maka itu, saya terkejut ketika ada salah seorang penulis yang cukup terkenal di media sosial menulis dengan judul yang benar-benar disinformasi. Judulnya adalah “Taliban bukan Mujahidin”. Ini jelas-jelas disinformasi. Dari judulnya saja, dia sudah keliru. Tidak semua Mujahidin adalah Taliban, itu betul. Tapi, Taliban bukan bertentangan dengan Mujahidin. Jadi, kalau pakai istilah logika, yang benar adalah hubungan antara Taliban dengan Mujahidin adalah hubungan irisan. Artinya, sebagian Mujahidin adalah Taliban dan sebagian Taliban adalah Mujahidin karena tidak semua Taliban berjihad tapi tetap belajar di madrasah-madrasah mereka.

Pada era 1980-an itu, masuklah berbagai kekuatan luar, terutama Amerika dengan CIA-nya. Ini bukan bukan rahasia lagi. Semua orang sudah tahu dan ini juga diakui oleh Amerika sendiri. Presiden Amerika sejak Ronald Reagan hingga kini tahu bahwa mereka mendukung kelompok Mujahidin. Bahkan ada film tentang ini yang diperankan oleh Tom Hank (Charlie Wilson’s War berdasarkan buku non-fiksi karya seorang jurnalis Amerika, George Crile III).

Keterlibatan Amerika ketika itu punya tujuan untuk mengusir Soviet. Tidak ada hubungannya dengan ateisme, jualan mereka kepada kaum muslimin yang ingin meneguhkan Islam dan melawan mereka yang dianggap tidak bertuhan—dalam hal ini kaum komunis. Mereka dipakai oleh Amerika untuk mengusir Soviet.

Oleh karena itu, pada era 1980-an, Mujahidin punya gaung dan pengaruh yang besar di dunia Islam. Ini karena Amerika memang menginginkan Mujahidin ini dibantu oleh seluruh dunia Islam. Seperti hampir semua skenario Amerika yang memakai Islam, kaum muslimin umumnya tidak mengerti politik dan polos. Amerika kemudian berhasil merekrut dan mendatangkan ribuan atau puluhan ribu umat muslim dari seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Yang terbanyak datang dari Mesir, Sudan, Arab Saudi, dan Yaman. Mereka ke sana dan dilatih untuk melawan kekuatan militer Soviet ketika itu. Akibat dari perang ini, tidak kurang dari satu juta warga Afghanistan gugur dan sekitar 15 ribuan tentara Soviet tewas di sana.

Setelah Soviet menarik mundur pasukannya dari Afghanistan dan juga kejatuhan Soviet pada 1991, Afghanistan mengalami perang saudara yang serius. Dari tubuh Mujahidin itu, muncul begitu banyak faksi. Yang terkuat ketika itu adalah faksi yang beraliansi dengan Taliban atau katakanlah faksi yang paling banyak berhubungan dengan Taliban.

Siapa mereka? Mereka punya agenda yang bukan hanya agenda domestik Afghanistan ketika itu karena umumnya mereka itu kombatan asing dari negeri-negeri Arab, termasuk dari Indonesia. Salah satu pimpinan mereka dari Palestina, yakni Abdullah Azzam. Kemudian ada juga dari Arab Saudi, yaitu Osama bin Laden. Nah, Osama bin Laden dan kawan-kawannya inilah yang kemudian membentuk Al-Qaeda.

Seperti namanya, “Al-Qaeda” itu secara harfiah adalah ‘pangkalan’. Mereka tak menginginkan kesejahteraan rakyat Afghanistan atau ingin membangun negara dan bangsa Afghanistan. Tidak ada agenda seperti itu tapi agendanya adalah membangun jihad global atau jihad yang mendunia untuk mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai kekhalifahan Islam secara global.

Mereka juga hampir tidak pernah melakukan gerakan melawan Israel tapi umumnya melakukan pertempuran atau konflik internal dengan sesama muslim. Gerakan mereka terutama sekali hanya terjadi di negara-negara muslim.

Osama bin Laden dan Al-Qaeda-nya kemudian membentuk basis dan jaringan-jaringan kecil di seluruh dunia karena veteran mereka ada di mana-mana. Setelah datang ke Afghanistan dan kemudian pulang ke negeri masing-masing, mereka diberi tugas dan ideologi Al-Qaeda untuk membangun kekuatan di tempat masing-masing dalam rangka menjatuhkan negara mereka. Sebab, ideologi Al-Qaeda adalah ideologi globalis, yang tidak percaya pada adanya negara-bangsa dan tidak percaya dengan adanya perbatasan-perbatasan. Mereka melakukan peperangan, teror, dan segala macam kekacauan di mana-mana.

Taliban pada waktu itu terseret arus dan agenda Al-Qaeda, yang juga agenda Amerika dan Barat. Agenda inilah yang disebut oleh Dick Cheney (bekas wapres Amerika) dan kaum neokonservatif pada umumnya sebagai “constructive chaos atau kekacauan konstruktif. Artinya, mereka menciptakan kekacauan agar mereka mampu membangun sesuatu. Jadi, kekacauan dijadikan sebagai pijakan untuk agenda politik berikutnya.

Doktrin neokonservatif inilah yang melahirkan dan membidani Al-Qaeda dan aliansi Al-Qaeda dengan Taliban. Inilah yang kemudian menyebabkan konflik internal panjang di Afghanistan, yaitu di antara faksi-faksi eks Mujahidin, terutama antara Al-Qaeda dan Taliban di satu sisi melawan apa yang disebut sebagai Aliansi Utara, yang dipimpin oleh Ahmad Shah Massoud, di sisi lain.

Berkaitan dengan Aliansi Utara dan Ahmad Shah Massoud, merekalah kelompok yang bisa dikatakan menentang agenda Al-Qaeda dan Taliban secara terang-terangan pada masa itu. Ahmad Shah Massoud adalah orang yang tidak percaya dengan apa yang disebut “jihad global”, juga tidak percaya dengan kekhalifahan Islam yang mendunia. Karena itu, Ahmad Shah Massoud tidak pernah dibantu oleh Amerika, dan bahkan dianggap musuh oleh Amerika. Sayangnya, tulisan yang berjudul “Taliban bukan Mujahidin” tadi justru menyatakan bahwa Ahmad Shah Massoud didukung Amerika. Ini disinformasi besar berikutnya.

Ahmad Shah Massoud tidak pernah didukung Amerika. Dia justru pejuang nasionalis, yang berangkat dengan ideologi nasionalis dan tidak mau ada agenda “jihad global”. Ironisnya pula, dialah orang pertama yang dibunuh oleh Al-Qaeda sebelum Al-Qaeda melakukan penyerangan ke Menara Kembar WTC di New York pada 11 September 2001.

Mengapa dia dibunuh? Sebab, dialah yang pertama-tama mengingatkan Amerika akan bahaya hubungan Amerika dengan kelompok Al-Qaeda-Taliban yang punya agenda global ini. Tapi, Amerika rupa-rupanya justru sudah menitipkan agenda mereka pada kelompok Al-Qaeda-Taliban untuk melakukan destabilisasi, teror, dan kekacauan agar Amerika bisa membangun kebijakan war on terror.

Jadi, perang atas terorisme itu dimatangkan dan dijustifikasi dengan keberadaan tokoh-tokoh Al-Qaeda. Jadi, kalau orang mengatakan bahwa ini seperti yang dikatakan oleh Hillary Clinton bahwa Amerika membantu Al-Qaeda-Taliban dan kemudian Al-Qaeda-Taliban menyerang Amerika, itu sebetulnya tidak benar karena memang sudah ada titipan agenda agar mereka menjadi seekstrem mungkin, seteroris mungkin, sekeji mungkin, dan sekejam mungkin. Doktrinnya telah disiapkan, yaitu dalil-dalil agama yang dipalsukan dan dimanipulasi. Setelah itu, mereka membikin kekacauan di mana-mana. Negara-negara yang mengalami kekacauan akan kembali membutuhkan Amerika. Pada saat itulah, Amerika akan memeras dan memerah negara-negara itu serta akan menjalankan kebijakan untuk negara-negara itu.

Menurut saya, ini operasi intelijen yang sangat umum. Di mana-mana CIA memang doyan begitu. Kalau sedikit mendalami, misalnya, operasi CIA terhadap PKI, orang akan sadar bahwa PKI itu didorong-dorong untuk memberontak. Ketika memberontak, PKI akhirnya dijebak juga. Ini bukan trik baru. Ini trik lama.

Jadi, Taliban pada dasarnya adalah bagian dari masyarakat Afghanistan yang sejak semula ada. Sebelum intervensi dan pelatihan CIA, Taliban pada umumnya hanya masyarakat biasa yang ingin melawan penjajahan, yang waktu itu adalah invasi Uni-Soviet. Tapi, campur tangan CIA dan budaya militer Amerika serta segala macam cara dan trik mereka kemudian membuat Taliban yang semula tidak terlalu radikal dan ekstrem menjadi Taliban seperti yang kita tahu, yang muncul pada 1992 dan mulai melakukan penghancuran, perusakan, dan pembunuhan. Pada awalnya, mereka tidak pernah punya senjata modern, dan ketika pada akhirnya diberi senjata modern, mereka mulai berjiwa koboi dan menjadi duri dalam daging dalam bangsa Afghanistan. Ini yang harus kita tempatkan dan dudukkan, yakni adanya intervensi asing yang akan selalu membawa malapetaka bagi suatu bangsa.

Contoh lainnya bisa kita lihat di Irak, Suriah, dan Lebanon. Kita tahu di Lebanon perang saudara dan perpecahan berlarut-larut karena intervensi Amerika. Kalau mau bicara Timur Tengah, kita juga tak bisa melupakan keberadaan Israel sebagai kaki tangan Amerika atau sebagai military outpost of old colonialism.

Jadi, pada dasarnya, narasi semua itu sama saja, yakni adanya intervensi asing yang masuk dan kemudian menciptakan konflik.

Mengapa konflik bisa tercipta di Afghanistan? Sebab, Taliban yang semula orang-orang sederhana atau hanya orang-orang yang mau membebaskan tanah airnya dari penjajahan asing pada akhirnya punya senjata modern dan terlibat dalam intrik-intrik dominasi.

Yang patut dipersalahkan di sini bukannya Amerika per se tapi Barat secara keseluruhan. Akibat intervensi mereka terhadap Afganistan pada 1980-an, mulailah diciptakan “ideologi”. Ideologi memang sudah ada tapi ideologi itu tidak bisa berjalan di muka bumi ini tanpa senjata. Ideologi sebagai ideologi ada di kitab-kitab. Tapi, siapa yang mendanai ideologi itu untuk bergerak di tengah masyarakat dan melakukan penghancuran serta perusakan?

Itulah poin yang harus kita angkat. Ini dimensi pertamanya. Mudah sekali bagi mereka yang membaca peta Afghanistan atau peta kekuatan Amerika di manapun untuk mengetahui bahwa Amerika itu selalu meninggalkan luka akibat intervensi militernya. Sejak puluhan tahun sudah terlihat pola itu.

Penarikan mundur pasukan AS dan skenario chaos

Penarikan pasukan Amerika pada pertengahan Agustus 2021 juga menitipkan agenda yang sama seperti ketika mereka menitipkan itu pada 1990-an, yaitu menciptakan kekacauan dan teror di mana-mana agar negara di manapun di dunia ini membutuhkan Amerika, memerlukan Amerika, dan membebek kepada Amerika. Cara penarikan mundur yang mendadak dan sekonyong-konyong seperti itu menutupi agenda sebenarnya, yaitu menciptakan kekacauan. Mereka berharap, ketika kekacauan terjadi, nanti negara-negara tetangga Afghanistan akan kembali membutuhkan Amerika untuk memediasi dan melakukan perundingan lagi. Pokoknya, intervensi Amerika itu lagi-lagi dibutuhkan.

Menurut saya, itulah “harapan” Amerika. Data menunjukkan penarikan pasukan dengan cara yang sedemikian cepat dan brutal tidak mungkin terjadi, kecuali dengan maksud untuk menciptakan apa yang disebut sebagai vacuum of power atau kekosongan kekuasaan, sehingga negara kehilangan pemimpin dan pasukan. Jadi, ada demoralisasi yang luar biasa. Ini yang mungkin orang tidak paham atau tidak mendalaminya.

Namun, tidak adanya pertumpahan darah (dalam pengambilalihan Kabul oleh Taliban) menunjukkan bahwa semua orang sudah tidak suka dengan pemerintahan boneka di Kabul, yang dipimpin oleh Ashraf Ghani. Selain itu, masyarakat Afghanistan pada umumnya juga tidak senang dengan keberadaan pasukan asing atau pasukan pendudukan Amerika dan NATO. Mereka karenanya membiarkan saja Taliban melakukan inisiatif perlawanan ini untuk mengambil alih Kabul. Ini yang membuat tidak ada pertempuran dengan sesama warga Afghanistan saat Taliban mengambil alih Kabul.

Ini berbeda dengan 1992. Karena agenda Taliban pada waktu itu tidak disepakati oleh kebanyakan masyarakat Afghanistan, maka masyarakat melakukan perlawanan dan terjadilah pertumpahan darah. Pada saat itu, Taliban tidak mendapatkan mandat untuk melakukan pembentukan pemerintahan dan memonopoli kekuasaan. Oleh sebab itu, terjadi perang saudara.

Tapi, kali ini Taliban tidak menghadapi perang saudara karena masyarakat Afghanistan pada umumnya senang kalau ada yang melawan pasukan asing. Pasukan asing ini tidak membawa manfaat apa-apa dan tidak membawa stabilitas.

Bahkan, yang menjadi persoalan terbesar dari yang terjadi di Afghanistan adalah korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan Afghanistan bersama dengan para kontraktor militer yang disewa oleh Amerika. Itulah mengapa rakyat Afghanistan pada umumnya merestui gerakan Taliban kali ini.

Di sisi lain, dengan penarikan mundur pasukan yang begitu mendadak, Amerika berharap rakyat Afghanistan akan melakukan perlawanan terhadap Taliban. Ternyata itu tidak terjadi. Kekacauan yang terjadi di bandara itu ulah Amerika sendiri, yakni cara mereka mengevakuasi warganya, cara mereka menampung warga di bandara, dan segala macam cara yang mereka lakukan dalam rangka menciptakan kekacauan.



Pemerintahan boneka dan korup

Asumsi yang yang disampaikan Joe Biden bahwa pemerintahan Ashraf Ghani akan mengamankan Afghanistan menurut saya itu omong kosong yang lebih besar lagi. Jadi, Ashraf Ghani ini terkena kutukan Assad. Dia termasuk orang yang beberapa tahun lalu menulis buku yang judulnya Fixing Failed States: A Framework for Rebuilding a Fractured World. Jadi, dia menulis buku ini bersama seorang bernama Clare Lockhart. Nah, yang lucu Ashraf Ghani dalam buku itu menasehati Presiden Bashar Assad (Suriah) untuk mundur dan kemudian menjelaskan bagaimana cara membangun negara. Ironisnya, sekarang orang ini ternyata kabur dari negaranya dan bahkan sampai tidak tahu tujuannya ke mana. Ini ironi sejarah yang perlu kita ingat. Yang disebut sebagai “kutukan Assad” tetap berjalan sampai sekarang. Banyak pemimpin negara yang menyuruh Presiden Assad untuk mundur pada akhirnya malah lebih cepat tumbang daripada Assad.

Mereka yang mengamati Afghanistan dari sudut pandang seperti di atas akan melihat bahwa siapa saja, entah itu Taliban atau non-Taliban, sebenarnya tidak akan rela melihat pemerintahan boneka (rezim di Kabul) berkuasa. Menurut laporan-laporan, rezim di Kabul telah menciptakan beberapa kali pemilu yang korup, kotor, dan tidak memenuhi standar demokrasi yang sebenarnya.

Taliban melihat itu sebagai sebuah celah dan peluang. Ini sebuah catatan bagi mereka yang mengatakan bahwa masyarakat Afghanistan mencintai Taliban. Tidak sehitam putih seperti itu. Ini lebih karena masyarakat Afghanistan tidak menyukai pemerintahan boneka Amerika, mulai dari pemerintahan Hamid Karzai sampai Ashraf Ghani yang kabur.

Bagaiamana sebuah pemerintahan bisa dengan mudah runtuh seperti itu, dan juga militernya begitu mudah kolaps seperti yang kita saksikan pada saat pengambilalihan Taliban terhadap kabul? Itu menunjukkan bahwa mereka itu hanya boneka. Mereka tidak mau mengorbankan diri mereka untuk sesuatu yang tidak jelas. Mereka tahu, kalau tuan mereka saja sudah pergi, untuk apa mereka bertahan di situ. Mereka akan berpikir, ‘saya juga akan diadili oleh rakyat’. Mereka tahu itu.

Penolakan Taliban atas proses pembicaraan damai (yang berlangsung dan disponsori Amerika di Doha, Qatar) itu karena mereka yang berada di elite Taliban tahu bahwa pembicaraan damai dengan pemerintahan boneka tidak akan membuahkan hasil. Oleh sebab itu, Taliban tetap pada posisinya untuk menolak keberadaan Amerika.

Ini bukan pernyataan untuk membela Taliban. Kita punya banyak reserve tentang gerakan ini. Namun, yang ingin saya katakan, bahwa tidak ada orang yang mau berdamai dengan Ashraf Ghani. Buat apa? Sebab, orang-orang ini tidak pernah punya basis massa dan legitimasi sosial-politik di Afghanistan.

“Taliban 2.0” dan dimensi geopolitik

Saya kira ada dimensi geopolitik dari kebangkitan kembali Taliban, atau yang saya istilahkan dengan “Taliban 2.0”. Yaitu, ketegangan antara India dan Cina, Pakistan dengan India, dan menghilangnya kemesraan antara Saudi dengan Pakistan, dan semua itu menyebabkan Taliban 2.0 ini berbeda dengan Taliban sebelumnya.

Selain itu, jika kita kembali ke 40 tahun lalu, Taliban 1.0 atau versi lama adalah Taliban hasil kreasi Amerika, Taliban hasil rekayasa Amerika. Oleh sebab itu, mereka punya ideologi garis keras, sama sekali tidak kompromistis, paling puritan, dan paling merasa sok suci. Semuanya itu dalam rangka menakut-nakuti musuh-musuh mereka.

Mereka menjadi seperti itu karena injeksi dan bahkan instruksi dari luar, terutama Amerika Serikat dan Arab Saudi yang bekerja sama dengan intelijen Pakistan. Mereka bertujuan membuat sebuah basis atau pangkalan kaum radikalis sedunia. Kita tahu waktu itu CIA dan sejumlah negara Muslim, terutama Saudi dan Mesir, mengumpulkan ribuan ekstremis di Afghanistan dan kemudian mencuci otak mereka. Inilah Al-Qaeda itu.



Saat terjadi 9/11 (peristiwa serangan atas WTC di New York pada 11 September 2001), Amerika malu dan ingin menghabisi Al-Qaeda serta induk semangnya, yaitu Taliban. Namun, ini langkah yang tidak berujung karena Afghanistan bukanlah sebuah wilayah yang bisa ditaklukkan oleh imperium yang sudah mulai membusuk, seperti Amerika. Bahkan imperium yang sedang berada di puncak kekuatannya sekalipun tidak mudah menguasai teritori dengan geografi seperti Afghanistan.

Sekarang ini, ada indikasi Taliban berubah. Mereka mengatakan akan memberi amnesti, menghormati hak kaum perempuan, dan menjaga ibadah minoritas umat beragama. Ini indikasi dari dimensi lain, yang sejauh ini tidak dieksplorasi di media. Taliban yang sekarang ini, atau Taliban 2.0, sepertinya berbeda dengan Taliban 1.0.

Itu karena Taliban 1.0 itu Taliban binaan CIA, yang fungsi dan peran utamanya adalah merusak dan tidak memiliki misi politik nasional atau domestik. Taliban 1.0 ini persis seperti ISIS di Suriah dan Irak. Mereka hanya punya misi teror. Ketika teror berhasil meruntuhkan negara, barulah akan ada proses politik. Ini yang diharapkan oleh Amerika. Tapi, Taliban 1.0 ternyata kemudian menjadi serigala yang memakan tuannya sendiri.

Taliban 1.0 pada akhirnya selesai dan kemudian Taliban bermetamorfosa. Mulailah mereka melakukan negosiasi dengan banyak pihak dan membaca situasi politik. Di sini, pada saat ini, situasi geopolitiknya pun sudah sangat berbeda.

Saudi sudah tak lagi memiliki pengaruh di Afghanistan. Yang sekarang berperan adalah Qatar, yang pendekatannya kepada gerakan Islam berbeda dengan pendekatan Saudi, yang biasanya lebih brutal dengan mengusung ideologi garis keras, seperti yang kita lihat di Yaman. Tidak ada hasil apa pun yang diperoleh Saudi di sana kecuali penghancuran, perusakan, dan pembantaian. Inilah juga fungsi Taliban 1.0 yang diciptakan oleh CIA dan kroninya, terutama Pakistan di era Zia ul-Haq.

Taliban 2.0 menyadari telah terjadi perubahan geopolitik di Asia Barat ini. Perubahan ini tidak akan menguntungkan mereka jika mereka tetap memakai cara-cara lama. Bahkan, jika masih menempuh cara lama, mereka tidak akan pernah memiliki masa depan. Itulah yang saya kira mereka pelajari.

Saudi sudah tidak sebesar dan sekuat Saudi di era 1980-an. Kekuatan mereka sudah sangat menyusut. Rezim di Riyadh juga sudah mulai berpikir untuk berhubungan baik dengan Iran.

Itu artinya Taliban 1.0 sudah tak memiliki fungsi dan alasan untuk tetap ada. Masa bakti Taliban 1.0 sudah habis. Sebab itu, mereka harus cepat mengubah dirinya menjadi Taliban 2.0.

Apa itu Taliban 2.0? Yaitu, Taliban yang ingin mengelola negerinya dengan bantuan aliansi baru, yaitu Pakistan di bawah Imran Khan yang tampaknya tidak memiliki hubungan khusus dengan Saudi melainkan dengan semua pihak, termasuk Iran. Kemudian ada Cina yang punya kepentingan bisnis di wilayah ini. Kita bisa membaca laporan-laporan terbaru yang mengatakan, wilayah Afghanistan sangat kaya dengan sumber daya alam yang bernilai triliunan dolar, terutama cobalt dan lithium. Keduanya dan mineral langka lainnya dibutuhkan untuk teknologi canggih di masa depan. Cina punya kepentingan besar untuk mengeksplorasi itu.

Taliban 2.0 tahu bahwa yang punya uang bukan Amerika lagi tapi Cina. Ini berbeda dengan dekade 1980-an ketika Cina belum sekuat saat ini.

Selain itu, Cina memiliki kepentingan menghadapi India. Sejak 2020, terjadi ketegangan serius antara Cina dan India menyangkut perbatasan yang disengketakan sepanjang 3.400 kilometer (di antaranya di Danau Pangong di Ladakh dan wilayah otonomi Tibet). Intinya, Cina berharap Afghanistan beraliansi dengan mereka. Caranya adalah mendukung Taliban untuk mengalahkan Amerika karena jika di situ masih ada Amerika, Amerika hanya akan melakukan permainan yang merugikan Cina.

Taliban 1.0 sebenarnya bukan Taliban yang sebenar-benarnya orang Afghan. Yang paling memengaruhi Taliban 1.0 itu adalah “Afghan-Arab”, atau orang-orang asing berimigrasi dari negara-negara Arab ke wilayah Afghanistan, seperti Abdullah Azzam dan Osama bin Laden. Pada umumnya, mereka disebut “Afghan-Arab”. Mereka berideologi garis keras.

Namun, yang lebih besar daripada sekadar ideologi di sini adalah aliansi mereka dengan CIA. Cara-cara keji, kotor, kejam, dan brutal mereka pelajari dari CIA. Di mana-mana operasi CIA itu sangat brutal. Tidak ada itu yang namanya perikemanusiaan. CIA biasa melakukan itu di mana pun mereka beroperasi.

Ideologi sebagai ideologi itu tak langsung ke tataran praktis. Dari teori ke praktik selalu akan ada gap. Misalnya, Khawarij berideologi garis geras jika kita baca sejarah. Tapi, siapa yang memberi fasilitas kepada Khawarij untuk melakukan kekerasan? Jadi, antara berpikir brutal dengan melakukan kebrutalan itu dua hal berbeda. Yang memberi fasilitas kepada Taliban untuk melakukan kekerasan dan kekejian yang terjadi di era 1990-an itu Amerika dan Saudi dengan dukungan intelijen Pakistan.

Nah, Taliban 2.0 sekarang tidak merasakan itu sebagai sesuatu yang mereka perlukan. Mulailah sekarang ini mereka bicara tentang kesejahteraan ekonomi dan investasi. Sebab, mereka tahu kali ini mereka berhubungan dengan Cina, yang kepentingannya hanya urusan ekonomi dan sedikit dimensi geopolitik menghadapi India. Jadi, Cina sekarang tak akan memberi Taliban fasilitas seperti yang pernah di beri Amerika. Untuk apa? Cina hanya mau menumpuk kekayaan, dan ini membutuhkan stabilitas di Afghanistan.

Taliban 2.0, dari wawancara media dengan jubir Taliban, sendiri punya semacam kebencian dengan kelompok garis keras seperti ISIS. Artinya, keadaan sudah berbeda. Peta lapangan sudah berbeda dengan apa yang terjadi pada masa lalu. Padahal, ISIS ini “anak haram” Amerika dan Saudi, yang semula dievakuasi oleh Turki ke Afghanistan. Kini Taliban merasa orang-orang ini harus dihukum serta dikembalikan ke negara mereka masing-masing.

Turki punya permainan ingin mengungsikan sebagian teroris yang sudah terisolasi dan terkurung di Idlib, Suriah, ke Afghanistan. Mereka seolah-olah ingin mengembalikan Afghanistan ke era 1980-an atau 1990-an sebagai tempat inkubasi teroris-teroris ini. Itu harapan Turki, dan Turki tidak bekerja sendiri. Jadi, kalau kita bicara Turki, ini bukan Turki sebagai sebuah negara Islam tapi Turki mewakili kepentingan NATO. Teroris-teroris ini, atau kombatan-kombatan yang gagal merebut kekuasaan di Suriah ini, pada akhirnya akan kembali ke negara masing-masing, dan sebagian dari mereka datang dari negara-negara Eropa. Dalam rangka menghindarkan kepulangan yang tragis dari kelompok kombatan-teroris ISIS ini, maka mereka dievakuasi ke Afghanistan. Itulah mengapa Taliban marah kepada Turki dan memerangi serta mengusir orang-orang itu.

Padahal, kalau kita flashback ke era 1980-an, dimana kelompok teroris Arab ini datang ke Afghanistan, mereka inilah yang mencuci otak Taliban menjadi ekstremis, padahal Taliban tidak datang dari ideologi Wahabi sebagaimana orang-orang rekrutan CIA dari negara-negara Arab. Mazhab Taliban adalah Mazhab Hanafi yang jauh lebih toleran jika dibandingkan dengan Wahabi di bawah payung Mazhab Hambali.

Semua ini menyebabkan keadaan Taliban 2.0 saat ini boleh kita prediksi secara lebih optimistik, atau lebih percaya diri, berbeda dengan Taliban pada era 1980-an. Saya kira, kita tidak bisa menilai situasi pada saat ini saja tapi melihat perkembangan yang akan terjadi dalam beberapa bulan atau mungkin satu atau dua tahun ke depan, bagaimana perilaku politik Taliban ini dalam membentuk kekuasaan dan pemerintahan. Sebab, kalau mereka monopolistik dan bersikap eksklusif, maka pasti akan terjadi resistensi internal yang serius.

Bagaimana Iran memandang Taliban 2.0?

Semua yang mengamati Timur Tengah tahu bahwa musuh utama dan terbuka Amerika adalah Iran. Menurut informasi yang saya dengar, Iran sejak 10 tahun lalu sebenarnya sudah menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok di dalam Taliban. Secara historis, Iran juga punya hubungan dengan etnis-etnis di Afghanistan seperti Hazara, Tajik, dan Uzbek yang berbahasa Persia. Artinya, Iran secara historis punya pengaruh di wilayah-wilayah Afghanistan sejak lama atau sejak masa dinasti-dinasti lama. Iran telah menjalin hubungan dengan berbagai kelompok di wilayah ini.

Yang menarik bahwa Jenderal Esmail Qaani yang sekarang ini memimpin Brigade Al-Quds menggantikan Jenderal Qasem Soleimani adalah orang yang semula operatif Iran di Afghanistan. Dialah yang menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok etnis itu dan juga berbicara dengan Taliban.

Berdasarkan informasi yang saya terima dari pengamat-pengamat Iran, Iran punya semacam kesepahaman dengan kelompok Taliban. Iran akan mendukung Taliban selama Taliban bergerak untuk melawan pasukan-pasukan pendudukan, dalam hal ini pasukan Amerika dan NATO. Iran akan menyuplai apa saja yang bisa disuplai untuk kekuatan Taliban selama Taliban bergerak dengan agenda atau misi mengusir pasukan asing.

Yang menarik lagi, kalau kita lihat saat ini, memang tampaknya Taliban memenuhi semacam kesepahaman itu dengan tidak mengusik minoritas Syiah di mana pun, dan bahkan mereka tidak memasuki wilayah-wilayah yang berpenduduk mayoritas Syiah dan juga tidak, menurut pengakuan jubir Taliban, mau memasuki wilayah Lembah Panjshir agar tidak memprovokasi konflik. Saya kira komitmen itu masih dipenuhi oleh kelompok Taliban.

Investasi Iran di Afghanistan berupa hubungan ini akan menyebabkan Iran punya peran sentral dalam pembentukan pemerintahan Afghanistan di masa depan. Selain itu, Taliban sendiri tahu Iran kini berbeda dengan Iran pada era 1980-an dan 1990-an, dimana Iran menghadapi negara-negara besar yang berada di puncak kekuatannya, yaitu Amerika dan negara-negara Arab. Taliban sekarang ini tahu bahwa musuh-musuh Iran di wilayah ini telah mengalami kemunduran yang sangat serius di satu sisi. Di sisi lain bisa dikatakan Iran sendiri lebih sehat dan lebih kuat jika dibandingkan dengan Iran pada era 1990-an, yang baru keluar dari perang delapan tahun dengan Irak yang waktu itu didukung oleh Barat dan dunia Arab.

Jadi, Taliban saat ini tampaknya realistis dalam melihat hubungannya dengan Iran. Di sisi lain, mereka juga melihat bahwa negara-negara di perbatasan Afghanistan juga bukan negara-negara seperti masa lalu. Tajikistan, Uzbekistan dan negara-negara lainnya di Asia Tengah yang dulu adalah wilayah pendudukan Soviet, masuk ke dalam blok Soviet, kini sudah mandiri. Jadi, ancaman Taliban bagi negara-negara itu sudah jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan pada era 1990-an. Apalagi, Cina sekarang berbeda dengan Cina 25 tahun yang lalu, baik secara ekonomi, militer, maupun pengaruh geopolitik.

Ini ditambah Pakistan sebagai “big brother” Taliban pada era 1990-an kini sudah mengalami kemerosatn yang jauh. Pakistan tidak lagi dianggap sebagai “kakak” yang akan memanfaatkan Afghanistan dan kelompok Taliban atau siapa pun pemerintahan Afghanistan seperti di masa lalu.

Potensi resistensi terhadap Taliban 2.0

Jadi, Taliban 2.0 itu Taliban yang sudah lebih pragmatis dan barangkali juga datang dari aspirasi berbagai kelompok. Namun, ini bukan berarti Taliban 2.0 tidak akan mendapatkan resistensi dari kelompok-kelompok lain di Afghanistan.

Sejak pecahnya kelompok Mujahidin menjadi Aliansi Utara dan Taliban pada 1990-an, kita tahu bahwa kelompok-kelompok Mujahidin kemudian mempunyai wilayah kekuasaannya masing-masing. Aliansi Utara umumnya menguasai wilayah yang disebut lembah Panjshir. Ini stronghold keluarga dan pengikut Ahmad Shah Massoud. Pimpinannya sekarang adalah anaknya, Ahmad Massoud.

Hari ini, menurut laporan, mereka berkoalisi dengan Wakil Presiden Afghanistan Amrullah Saleh, untuk melakukan perlawanan terhadap Taliban. Kabarnya, mereka mulai merebut kembali sebagian wilayahnya yang semula jatuh ke tangan Taliban.

Kelompok ini akan selalu ada dan bisa membesar atau mengecil lalu hilang. Itu semua bergantung kepada proses politik. Yang akan membentuk kekuasaan dan pemerintahan Afghanistan di masa depan bukan lagi kekuatan militer tapi proses politik. Apakah kelompok anti-Taliban ini mampu berkoalisi dengan minoritas dan elemen-elemen yang cemas dengan Taliban. Atau sebaliknya, Taliban dengan bantuan sekutu barunya, seperti Cina, Pakistan di bawah Imran Khan, dan mungkin juga Iran, mampu menginklusi kelompok yang sekarang ini resisten.

Proses itulah yang bakal terjadi. Sebab, menurut saya, Taliban sudah banyak belajar bahwa dengan kekerasan, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Terlalu banyak korban tapi tidak ada hasilnya. Mereka menurut saya tahu semua itu.

Afghanistan bukanlah wilayah yang mereka bisa kuasai dengan kekuatan senjata. Sebab, wilayah seperti lembah Panjshir ini adalah wilayah yang sangat keras, yang bahkan Soviet tak mampu kuasai pada waktu itu. Hingga detik ini, Taliban tidak menguasai wilayah itu. Jadi, wilayah ini akan lepas dari kendali siapa pun kecuali mereka yang mampu mengajak masyarakat dan tokoh dari kelompok yang semula curiga dengan Taliban, yaitu Aliansi Utara, untuk masuk ke dalam pemerintahan dan membentuk pemerintahan yang sebenarnya.

Mengapa Ashraf Ghani tidak lari ke lembah Panjshir? Sebab, di lembah itu, mereka juga tidak disukai. Jadi, mereka yang selama ini memusuhi Taliban bukan berarti suka dengan pemerintahan Hamid Karzai dan Ashraf Ghani. Sebab, mereka tahu ini pemerintahan boneka, hanya cangkokan dari luar.

Kekuatan dan ketahanan yang dimiliki kelompok di lembah Panjshir ini lebih sejati. Mereka punya realpolitik dan basis massa, lebih daripada rezim di Kabul.

Taliban 1.0 yang membunuh Ahmad Shah Massoud berbeda dengan Taliban 2.0. Taliban 1.0 berotak operasi intelijen ala CIA, nyaris tak punya kepentingan domestik. Mereka membesar seperti dinosaurus dan mau menghancurkan Amerika dan menegakkan syariat Islam di seluruh dunia. Taliban 1.0 walhasil adalah manusia-manusia penuh khayal.

Kalau Taliban 2.0 ini lebih pragmatis dan membumi, barangkali mereka bisa bernegosiasi dengan kelompok lembah Panjshir ini dan juga kelompok lain, seperti Hazara (komunitas Syiah di Afghanistan) yang punya masa lalu yang kelam dengan Taliban. Wilayah yang dihuni entis Hazara juga sampai sekarang tidak bisa dikuasai oleh Taliban.

Jika kita kembali ke sebelum teror 9/11, pembunuhan atas Ahmad Shah Massoud itu terjadi (pada 9 September 2001) karena ada rencana serangan atas Amerika (Ahmad Shah Massoud di sebuah forum parlemen Eropa pada April 2001 memperingatkan Amerika bahwa akan ada serangan berskala besar di tanah Amerika oleh kelompok teroris yang didukung Amerika sendiri). Itulah balasan Taliban dan Al-Qaeda terhadap Ahmad Shah Massound. Ahmad Shah Massoud memberi peringatan itu karena justru tidak mau Amerika masuk ke Afghanistan dan menginvasi negeri itu. Jadi, pembunuhan atas Ahmad Shah Massoud itu juga karena adanya Taliban 1.0 yang binaan Amerika, yang akhirnya dendam kepada Amerika. Apalagi 9/11 ini bukanlah serangan polosan, atau tanpa “udang di balik batu”. Sebab, setelah itu, ada “War on terror” yang mengharubiru dunia.

Taliban 2.0 ini seharusnya berbeda. Wallahu ‘alam. Ini prediksi. Sebab, Amerika sudah tak bisa mengendalikan mereka. Selama tidak ada intervensi asing seperti dulu, Taliban 2.0 ini akan lebih waras dan lebih membumi, lebih pragmatis dalam melihat persoalan. Taliban 2.0 seharusnya melihat bahwa diri mereka bukanlah kekuatan utama yang bisa menguasai semuanya. Jika tidak bekerja sama dengan kelompok lain di masyarakat Afghanistan, mereka bisa diperlakukan seperti rezim sebelumnya: dijatuhkan, digulingkan, dan diusir.

Ini yang mereka harus tahu, apalagi geopolitik sudah berubah. Pakistan sudah bukan Pakistan yang dulu. Ada Cina yang punya kepentingan ekonomi. Ada juga Iran di situ, yang hubungannya dengan Pakistan sudah tak seperti pada saat Pakistan di bawah Zia ul-Haq. Iran dan Pakistan di bawah Imran Khan sudah lebih dekat ketimbang masa-masa sebelumnya. Imran Khan juga bukan boneka Saudi dan tidak dekat dengan Amerika tapi justru dekat dengan Cina.

Kalau Taliban 2.0 tidak berhasil membangun dan membentuk pemerintahan berdasarkan koalisi dengan elemen masyarakat lain, saya kira kemungkinannya akan ada konflik yang bisa jadi lebih buruk.

Saya yakin itu dan saya kira peta lapangan menunjukkan hal seperti itu. Prediksi saya ini berdasarkan pada adanya kekuatan-kekuatan yang sampai sekarang masih reserve seperti yang saya sudah sampaikan. Misalnya, kekuatan Aliansi Utara atau katakanlah kelompok lembah Panjshir di bawah pimpinan Ahmad Massoud, putra Ahmad Shah Massoud. Kalau Taliban 2.0 mengambil langkah yang salah, maka saya yakin kelompok lembah Panjshir akan melancarkan resistensi atau perang gerilya yang cukup serius, dan akan menyebabkan Afghanistan masuk ke dalam siklus instabilitas yang parah dan mungkin juga Taliban akan dengan mudah dikalahkan karena Taliban sudah tidak punya back-up Amerika dan Saudi. Dan saya kira Cina, India, atau Iran lebih senang kalau Aliansi Utara yang memenangkan pertarungan.

Kekalahan Amerika di Afghanistan pelajaran bagi sekutu Amerika

Kekalahan Amerika di Afghanistan ini merupakan pelajaran penting bagi siapa saja yang bermitra dan bersekutu dengan Amerika. Saya teringat dengan Henry Kissinger yang mengatakan, “It is dangerous to be an enemy of United States, but it is fatal to be a friend of United States.” Bermusuhan dengan Amerika itu memang berbahaya tapi berteman dengan Amerika itu mematikan.

Ungkapan Kissinger ini secara nyata berulang-ulang dilakukan oleh Amerika, mulai dari bagaimana mereka sama sekali tidak peduli dengan Raja binaan mereka, yaitu Shah Iran. Mereka membiarkan begitu saja Shah digulingkan oleh rakyatnya, dan itu adalah sesuatu hal yang sah rakyat menggulingkan diktator tapi “big brother” ini sama sekali tidak mencoba untuk menyelamatkan Sang Raja dan menonton saja sekutunya digulingkan dengan cara seperti itu. Bahkan, Amerika tidak memberi Shah suaka hingga akhirnya Shah mati di Mesir. Lalu kita melihat apa yang terjadi pada Hosni Mubarak, Saddam Huseein, dan Ali Zainal Abidin di Tusia. Sekutu-sekutu itu dibiarkan oleh Amerika begitu saja bertarung untuk menyelamatkan diri dan bahkan nyawa mereka.

Itu menunjukkan kembali kepada kita watak dari kebijakan luar negeri Amerika, yang hanya akan memanfaatkan yang kuat. Ketika yang kuat ini lemah, ok go to hell. Silakan kalian masuk ke jahanam dan tidak perlu kami bantu lagi. Saya kira yang saat ini paling ketar-ketir adalah negara-negara Arab karena mereka melihat pemerintahan yang dibina Amerika di Afghanistan dengan mudah dijatuhkan oleh gerakan gerilya, dan nasib seperti itu bukan sesuatu yang jauh di mata rezim di Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait. Maka, saya kira mereka sekarang akan mereposisi diri terhadap negara-negara di sekitarnya. Pasti mereka akan mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangganya yang akan selalu ada di situ.

Investasi Amerika di Afghanistan konon disebut Donald Trump pada 2016 mencapai angka sekitar 6 triliun dolar. Jika kita tambahkan 3-4 triliun saja pada 2021, ini berarti sudah hampir 10 triliun dolar. Katakanlah 8 triliun dolar. Tapi, perang di Afghanistan hasilnya nol. Amerika menjadi tidak punya teman, pangkalan, dan masa depan.

Sekarang, pertanyaan buat para pengagum Amerika, ke mana 8 triliun dolar uang pembayar pajak Amerika itu. Saya kira itu menjadi bancakan para kontraktor militer atau yang disebut “industrial military complex”. Jadi, 8 triliun dolar itu dirampok oleh industri militer Amerika dan elemen-elemen militer atau jenderal-jenderal mereka, serta sebagiannya juga dimakan juga oleh Ashraf Ghani dan Hamid Karzai serta jajaran mereka.

Kekalahan Amerika di Afghanistan bukan mustahil awal dari keruntuhan imperium Amerika. Dengan hancurnya kedigdayaan militer dan dengan hancurnya image kedigdayaan itu di mata dunia, maka dunia atau negara-negara lain tidak lagi membutuhkan Amerika di satu sisi. Di sisi lain, ekonomi Amerika juga merosot. Amerika tidak lagi menjadi negara adidaya ekonomi setelah tidak berhasil mengokohkan citranya sebagai adidaya militer. Saya kira ini dua elemen yang menyebabkan imperium pada akhirnya jatuh.[]