Langsung ke konten utama

Gagal Taklukkan Yaman, Saudi Lirik Misil Israel







Riyadh telah lama mengincar misil buatan Tel Aviv. Kini, setelah 7 tahun gagal menaklukkan Yaman, Saudi berancang-ancang membeli sistem peluru kendali anti-balastik Israel. 

Majalah Breaking Defense melaporkan, 14 September 2021, potensi pembelian kian terbuka setelah Amerika Serikat menarik sistem peluru kendali anti-balastiknya (THAAD) dan sistem pertahanan misil Patriot-nya dari pinggir Kota Riyadh. Juru bicara Pentagon John Kirby menolak menjelaskan rinci terkait langkah itu. Ia hanya mengatakan Washington tetap menjaga komitemennya terhadap para sekutu di Kawasan. 

Majalah menyebut Raja Salman membidik produk lainnya dari Rusia dan Cina. Meski demikian, Saudi telah mempertimbangkan dua perusahaan secara spesifik: Rafael atau IAI. 

Saudi menginginkan sistem pertahanan 'Iron Dome' dari Rafael karena dianggap mampu menembak roket-roket dalam jarak dekat. Riyadh juga melirik Barak ER buatan IAI yang didesain untuk melakukan intersep terhadap rudal-rudal kendali musuh. 

Rafael Advanced Defense Systems Ltd dan Israeli Aerospace Industruies merupakan perancang dan pabrik perangkat keras militer. Belakangan perusahaan ini menfokuskan pada penerbangan dan antariksa.

Sumber dari Israel yang dikutip Majalah menyebut kesepakatan Riyadh-Tel Aviv akan lebih realistis jika keduanya dapat memastikan ada restu dari Paman Sam. 

Tapi para pengamat menilai, bagaimanapun, Tel Aviv hampir tidak lagi menganggap restu Washington penting bagi agendanya. Faktanya,  rezim ini terus-terusan melakukan tindak kriminal di Kawasan tanpa perlu memperhatikan kebijakan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengafirmasi keengganan Pemerintahan Joe Biden ikut campur dalam kesepakatan Saudi dan Israel. "Saudi dan Israel merupakan rekan penting AS dalam keamanan," katanya. Ia bilang, Tel Aviv dan Riyadh bisa saja menjalin kontak untuk membicarakan rencana mereka. 

Masih sumber yang sama, Majalah melaporkan, "Melalui pejabat level-bawah, Saudi telah mengadakan pembicaraan soal ini dengan Israel beberapa tahun lalu." Tapi, "Pembicaraan mulai bertambah serius ketika AS berencana menarik aset militernya dari tanah Kerajaan."

Prospek pembelian juga datang ketika sistem intersep AS di Saudi selama ini gagal menghadapi serangan balasan Yaman. Dalam 7 tahun, roket-roket tetangga Saudi yang miskin itu telah berkali-kali menembus sistem pertahanan AS yang dikenal moderen.

Dalam periode hampir satu dekade ini, Yaman berupaya menahan agresi militer Saudi dan sekutunya. Mereka bertahan dan melawan.

Tapi Saudi belum juga kapok mengeluarkan duit untuk belanja senjata. Walaupun Kerajaan belum  meraih kemenangan dan belum juga dapat mengembalikan rezim boneka di Yaman. Sementara itu, ribuan nyawa warga Yaman telah melayang. 

Menanggapi perkembangan kerjasama Israel-Saudi,  Yaman telah mengumumkan tekadnya untuk bersama poros perlawanan di Kawasan demi menentang setiap rezim agresi dan pendudukan. 

Sejumlah pengamat militer berpendapat, pembelian senjata dari Isral tak bakalan berdampak signifikan bagi Riyadh. Pengamat merujuk pada roket-roket poros perlawanan yang berkali-kali menghantam Israel tanpa intersep sistem pelindung  'Iron Dome'. Contoh terkahir pada Mei 2021, kelompok perlawanan di Palestina melesatkan empat ribu roket ke Israel hingga Tel Aviv mengumumkan genjatan senjata.