Langsung ke konten utama

Muda-mudi Yahudi Lebih Pilih Dipenjara Ketimbang Jadi Tentara Israel

Seorang pria dan wanita muda Yahudi mengumumkan penolakan mereka untuk menjalani wajib militer di dinas ketentaraan Israel (IDF) dan lebih memilih menghadapi hukuman penjara sebagai akibat dari keputusan mereka tersebut. 

Bukan kali ini saja penolakan semacam ini terjadi, melainkan hampir setiap tahun. Alasan utamanya adalah keberatan mereka atas seluruh kegiatan IDF, atau lebih tepatnya: para muda-mudi ini menolak wajib militer karena "keengganan mereka untuk berkontribusi pada penindasan rakyat Palestina".

Bukan hanya menolak terlibat penindasan, mereka akhirnya bahkan membentuk kelompok “Pejuang untuk Perdamaian”, sebuah gerakan perdamaian yang menghubungkan aktivis kemanusiaan Israel dan Palestina.

Di antara para penolak wajib militer itu, sebut saja dua di antaranya Tamar Alon dan Tamar Ze'evi. 

“Saya percaya bahwa cara perang, kekerasan, dan penindasan tidak akan memungkinkan kita untuk mempertahankan negara demokratis dan menjadi ‘orang bebas di tanah kita',” kata Alon, merujuk pada sebuah baris dalam Hatikva, lagu kebangsaan Israel. "Saya menolak untuk mendaftar karena kepedulian dan cinta untuk masyarakat saya dan karena keinginan untuk mendorong wacana publik tentang karakter dan masa depan masyarakat kita."

Senada dengan Alon, Ze'evi menyatakan, “Kita hanya akan keluar dari lingkaran ketakutan dan kekerasan ini ketika kita membuka hati dan pikiran kita, melihat apa yang terjadi di sekitar kita, dan membiarkan diri kita merasakan sakit yang diderita oleh orang-orang Palestina yang tinggal di negeri ini,” kata Ze' evi. “Begitu kita semua memahami dan menerima kenyataan ini, saya ingin percaya bahwa empati, toleransi, dan kompromi akan menjadi satu-satunya pilihan kita.”  []