Langsung ke konten utama

2.412 Wanita Tewas di Yaman Akibat Agresi



Sebanyak 2.412  wanita tewas di Yaman akibat agresi koalisi militer Arab Saudi sejak 26 Maret 2015 hingga 8 Desember 2021. Laporan ini dikeluarkan oleh organisasi pemerhati hak asasi perempuan dan anak, Entesaf, ketika mengakhiri 16 hari kampanye menentang kekerasan terhadap perempuan. 

Jumlah kekerasan terhadap wanita meningkat 63 persen sejak Yaman dilanda agresi dan blokade. Angka kekerasan meningkat di wilayah yang diduduki pasukan koalisi Saudi.

Hak dasar wanita dalam mengakses layanan kesehatan terampas.  Rumah sakit dan fasilitas kesehatan hancur; penyebaran wabah penyakit tak terbendung; jumlah pengidap malnutrisi meroket, khususnya di kalangan ibu hamil dan menyusui. 

Menurut laporan, 1,2 juta perempuan terindikasi menderita kekurangan gizi. Separuhnya merupakan ibu hamil. 

Selain itu, ada 65 ribu pasien kanker tumor. Sebagian besar adalah perempuan yang menghadapi resiko kematian.  

Meski demikian, Riyadh tetap mencegah obat-obatan masuk dengan memblokade akses keluar-masuk Yaman. Mereka enggan mengizinkan pasien yang membutuhkan berobat di luar negeri. 

Perempuan juga tak dapat mengakses pendidikan lantaran fasilitas sekolah hancur. Blokade ekonomi turut menyusahkan orang tua memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. 

Sementara di kantong-kantong pengungsi, terdapat 800 ribu perempuan. Tak ada laporan tindakan kekerasan di wilayah ini. 

Sebaliknya, kebanyakan aksi kriminal seperti penculikan dan pemerkosaan terhadap perempuan terjadi di wilayah yang diduduki pasukan koalisi agresor, khususnya di provinsi-provinsi selatan Yaman. 

Secara keseluruhan, korban meninggal telah mencapai dua ratus ribu lebih sejak agresi melanda Yaman pada Maret 2015. Ketika itu, Riyadh dan koalisi militernya yang didukung penuh oleh Amerika Serikat meluncurkan perang melawan negara termiskin di Asia Barat ini.

Mereka menyerang tetangganya di bagian selatan itu lantaran ingin mengembalikan penguasa boneka Abdu Rabbuh Mansour Hadi di Sana'a. Koalisi juga berhasrat menghancurkan kelompok perlawanan di Yaman, Houthi Ansarullah.

Jutaan masyarakat Yaman terancam bencana kelaparan akibat lulu lantaknya infrastruktur dalam negeri.  

Walau telah memorakporandakan negara lain, Saudi belum juga mencapai tujuannya. Bahkan dengan perkembangan poros perlawanan yang dibantu angkatan bersenjata Yaman, menurut berbagai pengamat, Saudi hampir mustahil menduduki Sanaa.[]

Yemen Press Agency