Langsung ke konten utama

Krisis Donasi, PBB Terpaksa Potong Bantuan ke Yaman


Badan Pangan Dunia PBB terpaksa memotong bantuan ke Yaman lantaran mengalami kriris donasi. PBB mengingatkan potensi gelombang korban kelaparan melanda tetangga selatan Arab Saudi ini.

Selama hampir delapan tahun, koalisi militer Saudi telah menciptkan apa yang PBB sebut sebagai krisis kemanusiaan terparah di dunia. Setidaknya 377.000 nyawa di Yaman melayang hingga akhir tahun ini. Sebanyak 4 juta orang menjadi pengungsi di negerinya sendiri.

Pada September 2021, PBB mengingatkan 16 juta orang Yaman berpotensi jatuh dalam bencana kelaparan Meski demikian, PBB hanya dapat menyalurkan bantuan makanan kepada 11,1 juta jiwa pada November 2021.

"Mulai Januari, 8 juta orang akan mendapatkan jatah makanan yang telah dipangkas. Sementara 5 juta yang rentan tergelincir ke dalam bencana kepalaran masih menerima jatah secara penuh," kata Badan Pangan seperti dikutip Al-Jazeera, 22 Desember.

Menurut badan urusan anak di PBB (UNICEF), sekitar 2,3 juta anak Yaman di bawah usia lima tahun menderita kekurangan gizi. Sekitar 400 ribu di antaranya diperkirakan  dapat mengalami malnutrisi berat yang mengancam hidup mereka pada beberapa bulan mendatang.

"Persediaan pangan PBB di Yaman berkurang drastis," kata Direktur Program Pangan PBB di Kawasan, Corinne Fleischer. "Jumlahnya berkurang hari demi hari, padahal kita tahu banyak orang telah lapar dan bakal menyusul jutaan orang yang telah terimpa bencana kelaparan. Langkah mendesak dibutuhkan dalam situasi ini."

Program pangan PBB mengatakan pihaknya memerlukan 813 juta dolar agar bisa melanjutkan penyaluran bantuan terhadap mereka yang paling membutuhkan bantuan di Yaman pada bulan Mei dan memerlukan 1,97 miliar dolar agar bantuan tetap tersalurkan selama 2022.

Malapetaka ini berawal dari agresi yang melanda Yaman sejak Maret 2015. Ketika itu, Riyadh dan koalisi militernya yang didukung penuh oleh Amerika Serikat meluncurkan perang melawan negara termiskin di Asia Barat ini.

Mereka menyerang Yaman lantaran ingin mengembalikan penguasa boneka Abdu Rabbuh Mansour Hadi di Sana'a. Koalisi juga berhasrat menghancurkan kelompok perlawanan di Yaman, Houthi Ansarullah.

Selain ratusan ribu orang meregang nyawa, infrastruktur dalam negeri ikut hancur. Blokade yang diterapkan koalisi Riyadh terhadap Yaman semakin memperparah keadaan.

Walau telah memorakporandakan tetangganya, Saudi belum juga mencapai tujuannya. Bahkan dengan perkembangan poros perlawanan yang dibantu angkatan bersenjata Yaman, menurut berbagai pengamat, Saudi hampir mustahil menduduki Sanaa.[]